Rabu, 03 Januari 2018

Oemah Bamboo Merapi

Kolaborasi Alam, Sahabat dan Kopi
di Oemah Bamboo Merapi




Erupsi Merapi pada tahun 2010 sempat memporakporandakan kawasan Selo di Boyolali yang terkenal dengan keasriannya.  Namun, setelah berbenah, tempat ini menjadi lebih tertata. Kawasan Selo yang berada di antara gunung Merapi dan Merbabu ini sekarang  memiliki  objek wisata baru kekinian-meminjam istilah anak muda zaman sekarang-‘’instagrammable’’ dan ‘’selfie-friendly’’, yaitu Oemah Bamboo Merapi.
            Letak Oemah Bamboo Merapi berada di dukuh Plalangan, Lencoh, Selo, Boyolali. Berada di ketinggian 1700 mdpl, spot wisata ini menawarkan udara sejuk dan pemandangan asri. Sangat cocok untuk menepi dari hiruk pikuk keramaian kota. Tempat ini juga tidak terlalu jauh bagi wisatawan yang tinggal di Semarang, Salatiga, Magelang, Solo dan Yogya. Tempat berlibur yang berada di jalur pendakian gunung Merapi ini sebenarnya sangat mudah dicapai. Ada beberapa jalur yang bisa dilewati. Namun, jalur Ampel Boyolali bisa menjadi alternatif rute tercepat. Rute jalannya cukup menanjak, jadi Anda harus berhati-hati dan waspada selama dalam perjalanan. Mendekati lokasi yang dituju, dari kejauhan terlihat tulisan New Selo.  Oemah Bamboo Merapi sendiri berada tepat di belakang New Selo.



            Untuk mencapai Oemah Bamboo, Anda harus naik melewati jalan setapak yang merupakan jalur awal pendakian ke gunung Merapi. Setelah 300 meter berjalan, di sebelah kiri, Anda akan menjumpai sebuah rumah besar berbentuk gazebo dan menara dari kumpulan bambu. Anda bisa berkeliling Oemah Bamboo hanya dengan membayar tiket seharga Rp 10 ribu/orang.

Tujuh Gunung

            Spot pertama yang akan Anda temui  berupa terowongan bambu yang didesain cukup apik. Di sini, para pengunjung biasanya menyempatkan diri untuk berfoto. Melangkah lebih ke dalam, Anda akan menemukan gazebo dan menara pandang yang satu sama lain saling berhubungan. Ya,  seperti namanya, Oemah Bamboo, struktur bangunannya terbuat dari  bambu, ditambah dengan kayu sebagai penguat konstruksi. Bangunan dari bambu ini cukup panjang dan memiliki beberapa spot, seperti lorong, jembatan, gazebo, bar hingga menara. Bangunannya dibentuk bertingkat-tingkat dengan beberapa gardu pandang yang menawarkan pemandangan Selo 360 derajat.




            Pada pagi hari saat cuaca cerah, selain sunrise yang muncul di celah gunung, dari puncak menara, pengunjung dapat melihat tak kurang dari tujuh gunung, yaitu Merbabu, Merapi, Ungaran, Lawu, dan Slamet, Sindoro, Sumbing.  Tentu saja rintangan terbesar wisata di daerah seperti ini adalah saat kabut turun yang akan membuat pemandangan di sekitar gelap gulita.
            Untuk mencapai puncak menara paling tinggi, Anda perlu menaiki empat tingkat lantai, dengan tinggi lima meter. Puncak menara hanya berkapasitas empat orang saja. Wisatawan perlu mengantre sebelum naik ke lantai tertinggi.  Anda tak perlu khawatir karena bambu yang digunakan untuk merangkai menara-menara merupakan bambu tua yang kuat digunakan bertahun-tahun. Di antara menaranya pun terdapat jaring sebagai fasilitas pengamanan jika ada wisatawan yang terjatuh. Bagi wisatawan yang takut ketinggian, Anda bisa berfoto di bagian bawah dengan latar perkebunan. Ada pula spot-spot lainnya seperti jembatan bambu, batu love, dan lainnya.
            Pengunjung Oemah Bamboo sendiri rata-rata berusia muda. Namun banyak juga pengunjung yang datang bersama keluarga. Mereka pasti membawa kamera maupun tongsis dan sibuk mengatur agar ponselnya agar bisa berdiri di atas lantai bambu untuk mendapatkan gambar yang bagus. Bagi yang ingin berfoto-foto di destinasi yang buka 24 jam ini, waktu  terbaik adalah pada pagi dan sore hari.

Kedai Kopi

            Bukan hanya gardu pandang dan gazebo yang asyik untuk melihat pemandangan, di sini, wisatawan juga akan menemukan kedai kopi, Oemah Bamboo Coffee.  Karena memang sebenarnya ide awal pembuatan Oemah Bamboo ditujukan untuk kedai kopi. Oemah Bamboo  sendiri dibangun oleh sukarelawan Barameru Merapi, Bakat Setiawan, Jiyo, dan Gimar. Kebetulan Jiyo memiliki lahan seluas 2.000 meter persegi yang kemudian dimanfaatkan untuk membuat Oemah Bamboo. Satu persatu gazebo dibangun sejak lebaran lalu, hingga kini sudah ada tujuh gazebo yang masing-masing berukuran 3×3 meter, 3×4 meter, dan satu gazebo aula. Di antara bangunan gazebo ada dua gardu pandang, masing-masing setinggi 10 meter dan 8 meter.



            Oemah Bamboo Coffee mencoba mengakomodasi tren minum kopi yang belakangan ini menjadi gaya hidup. Selain itu juga sebagai fasilitas pengunjung untuk beristirahat sekaligus memperkenalkan kopi arabica asli Lencoh Boyolali.
            Jiyo, pengelola Oemah Bamboo Coffee menyebut, tempat ini diharapkan bisa menjadi titik kolaborasi antara kopi, sahabat dan alam. Ada satu kesatuan antara 3 elemen penting tersebut. Oemah bamboo akan menjadi tempat ngopi yang beda dari tempat ngopi pada umumnya, di mana wisatawan bisa menikmati secangkir kopi hangat berlatar belakang gunung yang fenomenal di Indonesia. Sambil ngopi Anda bisa ngobrol dan berdiskusi tentang apa saja dengan sahabat, sekaligus mendengarkan kicauan burung liar yang terbang bebas tanpa terbelenggu, menghirup udara segar yang jauh dari kontaminasi.
            Hingga kini, bangunan Oemah Bamboo Merapi terus disempurnakan. Diperkirakan, bangunan ini sudah menghabiskan 4.000 batang bambu, yang semuanya dipasok dari wilayah Mekoro, Ampel, ada bambu petung dan bambu apus. Pembangunan rumah bambu dikerjakan sendiri oleh anggota sukarelawan Barameru. Dari sisi kekuatan konstruksi, Oemah Bamboo Merapi mampu menampung 80 orang hingga 100 orang. Setiap bambu disuntik obat agar tidak mudah keropos dimakan rayap.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar