Senin, 20 Februari 2017

Mengeksplorasi Keindahan Jalur Sosebo

            Ingin melakukan wisata murah meriah? Anda bisa menelusuri jalur Solo-Selo-Borobudur atau disingkat SSB atau Sosebo.  Anda bisa menemukan banyak tempat wisata alam yang bisa diakses gratis tanpa karcis, atau jika harus membayar, Anda tak perlu merogoh kocek dalam-dalam. Jalur Sosebo sendiri bisa dicapai kurang lebih perjalanan 30 menit dari Boyolali kota. Sosebo menjadi jalur favorit dan pilihan bagi para pendaki yang hendak menaklukkan gunung Merapi maupun Merbabu karena medannya yang tidak berbahaya dan jaraknya yang lebih dekat dari jalur yang lain. Pemerintah setempat,  saat ini secara bertahap memperbaiki tempat tujuan wisata di jalur Sosebo. Di antaranya memperbaiki sejumlah bangunan yang rusak paska erupsi gunung Merapi,  seperti joglo 1 yang terdapat gedung Merapi Theater, New Selo di desa Lencoh, dan membangun jembatan gantung di lereng Merapi sebagai jalur evakuasi warga.
            Lokasi pertama yang bisa Anda kunjungi adalah tanjakan Irung Petruk. Saat melintas jalur Sosebo dari Boyolali kota, Anda bisa menghentikan mobil atau kendaraan di tanjakan yang berada di desa Genting, Kecamatan Cepogo, Boyolali. Lokasi ini menjadi tempat pemberhentian wisatawan untuk istirahat, menikmati keindahan pemandangan dan sunrise  serta spot bagus untuk berfoto. Tepat di tikungan jalan yang menanjak, Anda akan menjumpai patung Petruk  yang menjadi ikon tempat ini. Latar belakang pembangunan patung Petruk sendiri berasal dari masukan dan aspirasi warga  lereng Gunung Merapi-Merbabu yang sampai saat ini meyakini adanya legenda Mbah Petruk.  Di luar cerita legenda,  penamaan Irung Petruk sebenarnya merujuk pada bentuk tikungan yang jika dilihat dari atas, seperti hidung petruk yang lancip.


            




Setelah menikmati keindahan alam dari tanjakan Irung Petruk, Anda bisa melanjutkan perjalanan ke agrowisata Selo Pass di ketinggian sekitar 1.400 m dpl. Dahulu tempat ini hanya kebun sayuran dan buah, sama seperti lahan-lahan milik penduduk di sekitar Selo. Namun kemudian oleh pemiliknya disulap menjadi kawasan wisata alam pada tahun 2002. Jika Anda sekadar berkunjung untuk melihat-lihat kebun sayur di sini, tidak dipungut biaya. Biaya hanya dibebankan pada pengunjung yang menginap. Pengunjung yang hobi mendaki gunung juga dapat menyalurkan hobinya di sini. Karena Selo Pass juga terkenal sebagai titik awal pendakian dan trekking ke puncak gunung Merapi. Untuk pendakian dengan jasa pemandu dikenakan biaya bervariasi antara Rp200 ribu hingga Rp250 ribu per orang.


            Di Selo Pass, Anda bisa berkeliling kebun sayuran (kubis, wortel, seledri, daun bawang, brokoli, dan kol bunga). Di tempat ini Anda juga bisa mendapati pohon kesemek, stroberi yang ditanam dalam polibag dan tanaman alfalfa (Medicago sativa) yang berasal dari pegunungan Mediterania. Kini Selo Pass menjadi satu-satunya tempat penanaman Alfalfa dalam skala luas di Indonesia meski hanya 3.000  m2. Alfalfa sendiri bisa dimanfaatkan sebagai bahan ramuan herbal, sayuran, dan pakan ternak. Di Selo, tanaman ini diolah menjadi ramuan herbal berupa teh seduh dan ekstrak. Setelah berkeliling kebun sayur, Anda bisa mencicipi teh seduh alfalfa.
Di kawasan ini, Anda dapat menikmati pemandangan indah di area pendakian gunung, tersedia fasilitas outbound, seperti flying fox, team work, dan fun game, serta New Selo yang merupakan pos pengamatan gunung berapi. Sementara itu di desa-desa di lereng Merapi, Anda  juga bisa menyaksikan kesenian tradisional seperti Reog Ponorogo, Ketoprak, Topeng Ireng, Jatilan, Tari Kuda Lumping Turonggo Seto, Tari Prajuritan, serta tradisi kearifan lokal upacara sedekah gunung Merapi yang digelar satu tahun sekali. Wisatawan  juga bisa melihat film tentang gunung Merapi di Merapi Theater di Joglo 1 dengan membayar Rp2.500 per orang.

Gardu Pandang dan Jembatan Gantung

Tempat lain yang bisa Anda kunjungi saat melewati jalur Sosebo adalah gardu pandang Bukit Gancik yang saat ini menjadi lokasi favorit wisatawan. Dari foto-foto selfie yang diunggah ke media sosial, banyak yang penasaran dengan tempat ini. Gardu pandang Gancik  dibangun tepat menghadap gunung Merapi. Bangunannya terbuat dari kayu dan bambu setinggi 10 meter dan berada di ketinggian 2000 meter di atas permukaan laut (Mdpl). Pembangunan gardu pandang ini dilakukan secara swadaya warga setempat. Warga Selo merintis agar Bukit Gancik bisa menjadi destinasi pendukung agrowisata yang ada di kawasan tersebut. Ide ini bermula dari penetapan Desa Selo sebagai Desa Berdikari oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng. Warga khususnya kelompok sadar wisata (pokdarwis) kemudian menggali setiap potensi yang ada di desa salah satunya Bukit Gancik.


Pengunjung yang datang ke gardu pandang ini akan merasakan sensasi berada di atas awan, tanpa perlu mendaki puncak hgunung Merapi atau Merbabu. Anda apat mendirikan tenda, sekaligus menunggu datangnya sunrise maupun sunset. Untuk mencapai gardu itu, pengunjung bisa berjalan kaki sekitar 20 menit. Bisa juga menempuh perjalanan menggunakan sepeda motor melintasi jalur-jalur pertanian yang sebagian sudah dibeton.
Dari gardu pandang di Bukit Gancik, Anda bisa melihat pemandangan segitiga emas, Lawu-Merapi-Merbabu.  Pada malam hari, keindahan alam dari bukit itu tak kalah menarik. Seperti lintang terbalik dan kerlap kerlip lampu kota Solo yang terlihat dari sini. Nama Gancik diambil dari sejarah Kiai Syarif yang tinggal di Merbabu pada tahun sebelum kemerdekaan. Jalur di bukit itu konon sering menjadi jalur naik turunnya Kiai Syarif dari Merbabu ke Pasar Selo.Di sini dulu tempat gawe mancik [untuk pijakan] kiai. Gawe mancik saat kiai memandang alam sekitar dan gae becik. Warga akan menata bukit itu menjadi lebih eksotis. Perkebunan sayur yang mengelilingi bukit akan dikemas menjadi kawasan agrowisata.
Selain gardu pandang Bukit Gancik, tempat lain yang wajib Anda kunjungi adalah jembatan gantung Selo dengan pemandangan yang indah. Jembatan gantung ini sebenarnya dibangun untuk kepentingan evakuasi warga di lereng gunung Merapi khususnya warga Dukuh Salaran Jrakah, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali. Jembatan ini mulai dibangun pasca erupsi hebat di tahun 2010 dan diikuti banjir lahar dingin yang menghancurkan sejumlah jembatan penghubung desa dan bendungan. Posisi keberadaan jembatan gantung ini relatif aman dari terjangan banjir.



Berselang beberapa tahun jembatan gantung Selo menjelma bukan hanya sebagai jalur evakuasi namun juga menjadi tempat rekreasi. Hal ini didukung oleh konstruksi jembatan yang unik ditambah dengan pemandangan cantik dari dua gunung eksotis yakni Merapi dan Merbabu. Jika menoleh ke arah barat maka samar-samar akan terlihat gunung Sindoro dan Sumbing. Di sekitar jembatan ini terlihat pula hamparan kebun sayur milik warga yang  membuat segar mata. Di tempat wisata ini Anda bisa berfoto-foto di atas jembatan yang pembangunannya menghabiskan dana dua miliar ini.
Saat terbaik untuk menikmati  keindahan alam dari jembatan gantung ini adalah waktu pagi dan sore hari. Pada pagi hari udaranya masih sejuk dan Anda bisa menyaksikan kumpulan kabut membentuk awan di sekitar gunung Merapi.  Sementara pada sore hari, Anda bisa menikmati panorama will-o’-the-wisp atau dalam bahasa jawa disebut ‘candik ayu’ di cakrawala langit sebelah barat.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Dari Sambal Lethok Hingga Jadah Selo

Berkunjung ke Boyolali, tak lengkap rasanya jika tak merasakan kuliner khas daerah. Sebelum Anda mengeksplorasi jalur Sosebo, Anda wajib berwisata kuliner di kota Boyolali. Di kota ini, Anda bisa menikmati masakan sambal tumpang. Orang Boyolali menyebutnya sambal lethok, yaitu perpaduan nasi atau bubur dengan sayuran rebus yang diberi kuah sambal tumpang di atasnya. Dari situlah muncul sebutan sambel tumpang. Komposisi sambal berbahan dasar santan dan tempe busuk yang dibumbui bumbu cabai, kencur, serai, daun salam, daun jeruk, bawang merah, dan bawang putih. Kuah sambal inilah yang menjadikan rasa gurih dan pedas pada nasi atau bubur tumpang. Biasanya, di dalam kuah sambal tumpang juga ditambahi tahu sebagai lauknya.



Beberapa kedai sambel tumpang legendaris di Boyolali di antaranya warung sambel tumpang Mbah Merto yang sudah berada  pada pewaris generasi ketiga, Bu Parti. Warung yang sudah ada sejak 15 tahun lalu ini buka mulai pukul  03.30 hingga 09.00 WIB, di Jalan Pandanaran Boyolali yang letaknya seperlemparan batu dari perempatan terminal kota Boyolali. Untuk menikmati satu porsi nasi atau bubur tumpang, Anda cukup merogoh kocek Rp 3000.  Warung sambal tumpang  lainnya yang juga memiliki banyak pelangga, di antaranya warung nasi tumpang Mbok Nah yang buka sejak tahun 1960. Ada juga bubur dan pecel tumpang Mbok Sagi di jalan Pahlawan Boyolali. Sementara di warung nasi tumpang Pak Suprih, di perempatan lampu merah, Jalan Tentara Pelajar, Boyolali, sambal tumpang yang dijual sudah siap bungkus dan diletakkan dalam keranjang rotan. Pembeli yang ingin menikmati sambal tumpang, bebas mengambil bungkusan yang telah disediakan seharga Rp 2000 per bungkus. Selain itu, yang terkenal di warung ini adalah pendamping untuk menikmati sambal tumpang yaitu, susu sapi murni seharga Rp 2500 per gelas.
Sementara itu di kawasan Selo, Anda bisa mampir dan istirahat sejenak menikmati view Merapi sembari minum kopi dan makan jadah (uli) bakar di warung Mbah Karto.  Di warung yang kecil dan sederhana, Mbah Karto menyajikan jadah yang lembut dan lumer, yang bisa dinikmati dengan cara dibakar ataupun tidak, disertai srundeng manis ataupun tempe bacem. Bahkan karena rasa gurihnya yang pas, jadah ini bisa dinikmati begitu saja tanpa tambahan apapun. Dan yang patut dicatat, jadah Mbah Karto tidak cepat kering seperti kebanyakan jadah. Jadah Mbah Karto ini benar-benar lembut dan lumer, serta tahan lebih dari 1 hari. Tentunya hal ini tidak terlepas dari bahan yang digunakan. Beras ketan yang berkualitas Mbah Karto memang pelopor produksi jadah di Selo sejak zaman dulu. Namun jadah Selo baru booming setelah pencanangan jalur wisata Solo-Selo-Borobodur (Sosebo). Seringkali orang sengaja datang ke Selo hanya untuk menikmati jadah bakar dan segelas teh hangat. Selain jadah, Mbah Karto juga menjual wajik. 



Senin, 16 Januari 2017

Dotonbori Osaka

Dotonbori Surga Street Food di Osaka




SELAIN Kastil Osaka dan Umeda Sky Building, tempat yang tak boleh dilewatkan saat berkunjun ke Osaka adalah Dotonbori, kawasan  yang tak pernah sepi pengunjung. Ada bisa menikmati keindahan sungai Dotonbori-Gawa, terutama di waktu malam.
Untuk menuju ke tempat ini, dari stasiun Osaka dengan mengambil Osaka Loop Line ticket, naik kereta bawah tanah ke stasiun Namba atau Nipponbashi. Dotonbori tidak jauh dari sana. Lampu neon dan obrolan tiba-tiba dari wisatawan Taiwan dan Korea mungkin pertanda bahwa Anda telah menginjakkan kaki di jalan yang terkenal membentang di sepanjang kanal Dotonbori.
 Tempat ini menyajikan pemandangan pertokoan yang menjual aneka jenis suvenir, aksesoris, dan pernak-pernik,  berbaur dengan restoran yang banyak menjual makanan khas Osaka, seperti takoyaki, okonomiyaki, dan ramen.  Tempat ini bisa dikenali dari simbol Glico Running Man dan kepiting Kani Doraku.  Tepat di samping Glico man di sisi Dotonbori yang ramai merupakan jalan yang penuh sesak. Atmosfer terasa sangat hidup dan bersemangat, dengan kerumunan orang-orang yang datang untuk makan atau mengambil foto.


Nuansa Dotonbori dianggap berhasil dalam memadukan kehidupan para penduduknya tanpa mengurangi nilai pariwisatanya. Kawasan ini menjadi semakin menarik kala memasuki malam hari, di mana kawasan Dotonbori akan bermandikan cahaya neon. Disini juga terdapat kanal seperti di Venice yaitu Dotonbori canal. Disediakan perahu sedang untuk mengelilingi kanal tersebut. Terdapat 2 jembatan yang terkenal yaitu Dotonbori bridge dan Ebisu Bridge. Ada bisa menikmati keindahan sungai Dotonbori-Gawa, terutama di waktu malam.


DI tempat ini merupakan surganya street food. Aneka Kushi-katsu  atau berarti sate goreng dan mereka tersedia dalam berbagai bahan yang ringan dilapisi tepung roti dan kemudian digoreng.  Ada juga takoyaki yang berarti gurita panggang, dan sebenarnya adalah adonan dengan potongan tentakel gurita di dalamnya. panggangan memiliki cetakan semi-bulat, dimana koki terampil memanuver adonan sampai itu berbentuk bola penuh. Biasanya, bit jahe merah, daun bawang, dan mini puff goreng ditambahkan ke dalamnya. Disajikan dalam perahu kertas di porsi minimal 6,berukuran sebesar bola golf takoyaki diberikan dengan mayones, saus cokelat, peterseli kering dan katsuobushi bonito flakes. Dan yang tak kalah populer adalah Tai, kue berbentuk ikan air tawar adalah camilan lezat. Rasa tradisional kacang merah dan kentang manis, tapi versi kontemporer termasuk custard, cokelat, dan bahkan daging dan keju. Anda tahu itu adalah Taiyaki yang baik ketika adonannya harum, kerak tipis, dan mengisi meluas sebagian ke ekor. Sementara baik sebagai camilan, Taiyaki juga dessert yang fantastis untuk melengkapi makan malam.Selain makanan di atas, juga terdapat makanan lain seperti pancake, ice cream, waffle, burger.


Osaka Castle


Menelusuri Jejak Peradaban Dinasti Toyotomi
di Osaka Castle


Selain Umeda Sky Building, Anda bisa juga bisa mengunjungi ikon bersejarah Osaka, yaitu Osaka Castle. Adapun akses bagi  menuju ke tempat ini dengan naik Osaka Loop Line selama 9 menit dari Stasiun Osaka dan turun di Stasiun Osakajo Koen, lalu berjalan kaki. Anda bisa naik Osaka Loop Line dengan menggunakan Japan Rail Pass.
Kastil Osaka sendiri merupakan simbol kejayaan pada era pemerintahan Toyotomi Hideyoshi, salah satu figur penegak sejarah bangsa Jepang yang dikenal sangat menyukai emas. Sehingga  tak heran banyak sekali alat perang, bangunan, dan furniture yang dibangun dari emas pada masa pemerintahannya. Hingga suatu hari, Toyotomi memerintahkan seorang master upacara minum teh, yaitu Rikyu Sen, untuk membuat bagian luar Kastil Osaka dilapisi dengan emas.


Selain itu, Kastil Osaka juga merupakan ladang perang para bangsawan yang saling 
memperebutkan kekuasaan pada saat itu. Sehingga tak heran apabila kastil ini beberapa kali mengalami kerusakan akibat adanya peperangan, tetapi pemerintahan yang baru selalu melakukan rekonstrusi (perbaikan). 
Kastil Osaka yang merupakan peninggalan bersejarah semakin ditegaskan dengan bangunannya yang tak lain adalah benteng pertahanan. Hal ini terlihat jelas dari desain bangunannya yang tinggi dan kokoh. Sebuah jembatan juga dibangun untuk menghubungkan luar parit dan bangunan utama kastil. Sungai yang berada di sekeliling kastil juga semakin memperindah lansekap ditambah hadirnya perahu wisata yang berlalu-lalang mengantar para wisatawan yang berkeliling di kawasan Kastil Osaka.
Masuk area kastil, Anda akan disuguhkan dengan jalanan berbatu berupa undakan dengan pemandangan spektakuler di depan menara utama. Di tempat ini juga bisa dijadikan sebagai tempat istirahat bagi Anda yang merasa kelelahan sembari menikmati bekal yang Anda bawa.

Di sini, Anda bisa naik Gozabun kapal tradisional Jepang untuk mengelilingi Kastil. Menariknya, perahu tradisional Jepang yang berwarna keemasan ini tidak akan melaju di atas laut ataupun sungai, tetapi melaju di atas parit. Anda akan diajak untuk menjelajahi setiap sudut dari Kastil Osaka selama 20 menit. Tarif yang ditawarkan untuk bisa menikmati fasilitas Gozabune ini ialah dewasa (1.500 yen), SD-SMP/anak-anak (750 yen), dan di atas 65 tahun/manula (1.000 yen). 



Umeda Sky Building Osaka

Mengukur Kadar Cinta di Umeda Sky Building 



SAAT berkunjung ke bagian barat Jepang,  Anda wajib menepi ke Osaka, kota terbesar ke-3 di Jepang yang terletak di wilayah Kansai.  Osaka yang terletak di pulau Honshu, di  mulut sungai Yodo ini menyuguhkan beragam situs wisata yang cantik.  Dari Tokyo menuju ke Osaka, Anda bisa naik pesawat, ataupun kereta shinkansen. Atau jika ingin memulai petualangan dari kota Osaka, pengunjung dari mancanegara bisa naik pesawat dengan tujuan Kansai International Airport.
Meski terkenal dengan situs-situs peninggalan yang eksotis, kota ini memiliki satu bangunan modern yang menjadi ikon. Jika Tokyo punya Tokyo Tower dan Tokyo Sky Tree, maka Osaka punya Umeda Sky Building. Mungkin belum banyak wisatawan mancanegara yang mengetahui tentang gedung pencakar langit yang satu ini. Umeda Sky Building sendiri berada di lokasi yang strategis dan mudah dijangkau transportasi umum, yaitu hanya 10 menit berjalan kaki dari JR Osaka Station atau Hankyu Umeda Station.



Umeda Sky Building memiliki 42 lantai dengan ketinggian mencapai 173 meter. Tempat ini tidak hanya memukau dari segi arsitekturnya, tetapi juga dari aneka fasilitas yang dimiliki. Bangunan ini termasuk dalam 20 besar gedung di dunia yang dipilih oleh Dorling Kindersley, bersama dengan gedung ternama lainnya, seperti Parthenon di Athena, Koloseum di Roma, Basilica di San Marc di Venesia, dan La Sagrada Familia di Barcelona.
Satu tempat yang harus Anda kunjungi saat berada di Umeda Sky Building adalah Kuchu Teien atau floating garden. Tiket masuknya sebesar 700 Yen. Untuk mencapai tempat ini, Anda  bisa naik lift menuju ke lantai 40.  Kuchu Teien memiliki atap berbentuk lingkaran, sehingga pengunjung dapat menikmati panorama kota Osaka hingga 360 derajat, dari berbagai sisi. Anda bisa  melihat view berupa gedung-gedung tinggi, hiruk-pikuk jalur yang menggambarkan Osaka  sebagai kota besar, modern, dan sibuk. Pada malam hari, pemandangan kota semakin terlihat indah karena gemerlap lampu. Yang istimewa,   lantai Kuchu Teien bermotifkan gugusan bintang di angkasa lengkap dengan efek glow in the dark yang dihasilkan dari efek lampu yang berada di sana.



Yang menarik, Kuchi Teien juga memiliki spot Lumi Sky Walk yang sangat diminati muda-mudi Jepang. Lumi Sky Walk berupa sebuah pelataran yang pada malam hari akan menyala berwarna-warni. Di sudut pelataran tersebut, anak-anak muda bisa menggantungkan gembok bertuliskan nama pasangan masing-masing. Mitos yang beredar, pasangan kekasih yang mengaitkan gemboknya akan memiliki cinta yang kekal. Di Lumi Sky Walk juga terdapat bangku saling berhimpit yang dapat mengukur kadar cinta. Anda cukup duduk dan bergandengan tangan dengan pasangan, maka lampu di lantai akan berpendar secara otomatis. Semakin tinggi kadar cinta, maka nyala lampu akan semakin terang. Lampu tersebut berbentuk hati. Jika kadar cinta Anda kepada pasangan hanya seujung kuku, maka hanya akan ada satu lampu berbentuk hati yang menyala. Namun, jika cinta dan kesetiaan Anda teramat tinggi kepada pasangan, maka empat lampu yang ada di lantai akan berpendar seluruhnya secara bersamaan. Mungkin teknologi yang digunakan untuk mengukur kadar cinta tersebut semacam sensor yang mampu mengukur kehangatan pasangan yang duduk berdua di bangku tersebut, atau mendeteksi detak jantung pasangan yang duduk.




Bagi Anda yang takut ketinggian,  sebaiknya berpikir dua kali untuk naik ke Kuchi Teien. Sebab, dari lantai dasar, Anda harus menggunakan lift hingga ke lantai 35. Lift tersebut terbuat dari kaca bening, sehingga Anda bakal melihat sekeliling hingga di ketinggian 173 meter. Setelah keluar dari lift, Anda harus menggunakan eskalator yang berfungsi sebagai jembatan penghubung menuju atap Umeda Sky Building. Lagi-lagi, eskalator tersebut transparan. Jadi, Anda akan serasa berjalan di langit. Namun bukan berarti Anda tak bisa menikmati fasilitas di gedung ini. Masih ada pilihan lain. Di lantai dasar ada taman dan air mancur buatan yang cantik. Pada malam hari, lampu-lampu menembakan sinar laser pada air tersebut. Sehingga percikan airnya terlihat berwarna-warni.

Selasa, 27 Desember 2016

3 Cara Menuju Odaiba

Bisa Dicapai Dengan Jalan Kaki


Ada tiga cara menuju Odaiba, meski naik Yurikamone paling mengasyikkan, namun dua cara lainnya tak kalah menantang.

* Naik Yurikamome
Yurikamome adalah kereta otomatis dengan ban karet, yang melewati jalur kereta di ketinggian. Menghubungkan stasiun JR Shimbasi dan Stasiun Daiba, kereta berangkat setiap beberapa menit dengan waktu tempuh sekitar 15 menit untuk menuju Odaiba. Asiknya, naik Yurikamome ini ketika melewati Rainbow Bridge dan mendekati Odaiba, akan terlihat pemandangan cantik pelabuhan dan pantai Tokyo. Usahakan duduk di bagian depan kereta untuk mendapatkan pemandangan yang sempurna. Naik Yurikamone merupakan cara pergi ke Odaiba paling menyenangkan.




* Dengan Perahu
Ada perahu Tokyo Water Bus yang beroperasi antara Odaiba Seaside Park dan Hinode Pier. Jarak tempuhnya sekitar 20 menit dan harganya 480 Yen, satu sampai dua kapal per jamnya. Ada juga perahu yang menghubungkan Asakusa dan Odaiba secara langsung namun lebih jarang. Dari Asakusa memerlukan waktu 50 menit dengan harga tiket 1560 Yen.




* Dengan Jalan Kaki

Cara ini mungkin melelahkan, tetapi ini adalah cara yang terbaik jika ingini menikmati sensasi menyeberang Rainbow Bridge dengan jalan kaki. Dengan jalan kaki bisa menikmati pemandangan cantik Odaiba dan Tokyo dengan puas. Hanya memerlukan waktu sekitar 30-45 menit untuk menyeberang ke Odaiba dengan berjalan kaki. Jalan kaki bisa dimulai dari jalur pejalan kaki di dekat Stasiun Shibaura-futo. Perlu diingat, jalur pejalan kaki hanya dibuka pada jam – jam tertentu seperti jam 09:00 – 21:00 pada bulan April hingga Oktober. Jam 10:00 – 18:00 pada bulan November hingga Maret. Pada kondisi cuaca buruk, jembatan akan ditutup untuk pejalan kaki.

Odaiba-Pulau Buatan Semi Futuristik di Jepang

Berburu Gundam Raksasa Hingga Patung Liberty di Odaiba




SAAT berwisata ke Jepang, Anda wajib mengunjungi Odaiba, pulau artifisial (buatan) terbesar. Odaiba yang dijuluki pulau paling romantis dan termodern di Jepang ini terletak di distrik Minato-ku, tak jauh dari pelabuhan Tokyo atau Tokyo Bay.  Saat ini, Odaiba terus menggeliat menyambut perhelatan Olimpiade 2020 yang akan digelar di Tokyo. Tempat ini akan menjadi sentral pertandingan olahraga dan penginapan atlet Olimpiade.
            Sebelum menjelajah, ada baiknya mengetahui sejarah tempat ini. Odaiba dulu sebenarnya adalah sebuah pulau buatan yang tak seberapa besar yang difungsikan sebagai benteng pertahanan militer untuk mempertahankan Tokyo dari kemungkinan serangan yang berasal dari laut. Namun, beberapa waktu kemudian, hingga sekarang, beberapa pulau kecil mulai digabungkan dengan cara reklamasi kemudian dibangun secara besar besaran, yang ditujukan sebagai pusat kawasan bisnis. Yang unik, sebagai pulau buatan, Odaiba konon memiliki pondasi dari urukan sampah dan campuran tanah. 
            Perkembangan pesat terjadi pada tahun 1990-an. Ketika beberapa hotel dan pusat perbelanjaan mulai buka di sini. Terlebih ketika jalur kereta (monorel) Yurikamome mulai dibuka, Odaiba tumbuh menjadi kota pelabuhan, pusat perkantoran, tempat belanja, dan tempat jalan-jalan yang memiliki daya tarik tinggi bagi wisatawan. Akses jalan yang sangat ramah untuk pejalan kaki menjadikan kawasan ini cocok dijadikan tempat hang out. Ada banyak objek wisata yang bisa dinikmati secara gratis di sini.






            Kawasan Odaiba juga bisa disebut sebagai lokasi duplikat. Di sini Anda akan menemukan Rainbow Bridge (Jembatan Pelangi) yang dibangun memiliki ciri khas yang mirip seperti Golden Gate milik negeri Paman Sam. Rainbow Bridge sendiri merupakan penghubung antara Odaiba dengan daratan Tokyo. Dan, bukan Jepang namanya jika tak mampu menciptakan sesuatu yang fantastik. Di sepanjang jalur Jembatan Pelangi  terdapat fasilitas jalan tol, jalur kereta api, jalan biasa, hingga trotoar bagi pejalan kaki. Dari kehebatan multifungsi dan arsitekturalnya, Jembatan Pelangi ini kemudian didaulat menjadi landmark bagi Odaiba. Jika  ingin melihat patung Statue of  Liberty seperti  yang ada di Amerika, Anda bisa melihat replikanya di sini. Ukuran patung lebih kecil dari aslinya.





Lansekap Semi Futuristik


            Agar bisa optimal mengelilingi area Odaiba, sebaiknya Anda berada di kawasan ini dari pagi hingga malam hari agar bisa melihat cahaya berpendar dari lampu warna-warni di Rainbow Bridge. Beberapa destinasi wisata di Jepang tutup pada hari Senin, jadi pastikan Anda mengetahui jadwal buka dan tutup tempat tujuan wisata yang akan Anda kunjungi. 



            Salah satu tujuan yang wajib Anda jelajahi adalah Fuji Terebi atau gedung Fuji TV. Anda akan dibuat takjub melihat berbagai program TV Fuji yang sedang berlangsung dari monitor-monitor TV yang tersedia. Ya, tak seperti kawasan studio pertelevisian di Indonesia yang selalu dijaga ketat di setiap lantai atau bahkan terkadang ada larangan untuk berfoto, gedung Fuji TV ini, di beberapa lantai terbuka untuk umum, Anda bisa berfoto dan menikmati kehebatan teknologi dari stasiun TV paling tersohor di Jepang. Toko suvenir hingga pusat perbelanjaan pun nampak menjamur di sekitar kawasan gedung Fuji TV.
            Spot penting lain yang tak boleh terlewatkan adalah Palette Town, pusat hiburan kota Odaiba yang memiliki desain arsitektur yang mirip dengan gedung-gedung di Eropa abad 18.  Resto, mal dengan desainer khusus Italia dan Eropa, Venus Fort, hingga gedung utama milik Toyota yang sering menjadi ajang pameran mobil, Mega Web, dan  Ferris Wheel, ada di sini. Ferris Wheel yang terletak di mal Palette Town ini merupakan salah satu bianglala yang terbesar di Tokyo, waktu putarnya sekitar 15 menit. Dari atas bianglala, Anda bisa melihat pemandangan indah Odaiba. Untuk menaiki Ferris Wheel ini, Anda harus membayar sekitar 920 Yen, Anda bisa memilih tipe kabin biasa dengan warna-warni menarik atau all-glass type yang tembus pandang sehingga Anda bisa leluasa melihat lansekap semi futuristik di bawah kaki.
            Bagi penggemar mobil, Anda bisa mampir ke  History Garage. Di sini banyak terdapat koleksi  mobil antik berbagai merek.  Selain mobil asli, juga dipamerkan miniatur  mobil. Selain itu, Anda juga bisa mampir ke  Mega Web Toyota City Show Case.  Selain bisa melihat pameran mobil, Anda bisa mencoba berbagai macam simulator  dan pertunjukkan Mega Theater.



            Tak jauh dari Palette Town, ada Diver City Tokyo Plaza. Tepat di depan mal terdapat patung raksasa Mobile Suit Gundam dengan tipe robot RX-78-2 setinggi 18 meter. Patung yang berada di Gundam Front ini dikelola oleh Bandai Co. Tak heran banyak anak-anak yang berjalan-jalan di sekitar sini untuk sekadar melihat dan berfoto-foto dengan Gundam.  Di kawasan ini, penggemar anime Gundam bisa membeli figure character Gundam yang dijual di Gundam Front dan Gundam Cafe. Anda bisa menghemat banyak uang dengan mendapatkan harga robot mainan ini. Tidak hanya figure character, baik di Gundam Front atau Gundam Cafe, Anda dapat menemukan beragam merchandise Gundam lainnya di sini. Jika lelah berkeliling Diver City, Anda bisa menghapus dahaga dan rasa lapar dengan mampir ke foodcourt yang letaknya ada di Diver City Lantai 1. Siapkan dana sekitar 600-1000 Yen per orang untuk membeli makanan di Foodcourt Diver City ini.
            Puas berkeliling mal, Anda bisa bersantai menikmati laut dan hamparan kota Tokyo serta lansekap-lansekap di depan Decks Tokyo Beachside Mall.  Anda juga bisa bersantai di Taman Odaiba yang menyuguhkan pemandangan  indah dengan latar belakang Rainbow Bridge, pemandangan Teluk Tokyo dan beberapa perahu wisata yang berlalu lalang. Di taman ini  juga terdapat sebuah pantai buatan, dan tak jauh dari pantai buatan ini terdapat replika patung Liberty
            Di Decks Mall sendiri ada banyak toko, restoran hingga berbagai taman hiburan. seperti Joypolis Tokyo,  Legoland Discovery Center, museum lilin Madam Tussauds dan museum trik art. Jika Anda berada  di Odaiba hingga malam hari, jangan lupa menikmati dinner di pasar malam di gang Odaiba Icchome Shotengai. Kita bisa menemukan kios-kios unik ala tahun 1950-an atau showa dengan papan nama tua  dengan lantunan lagu-lagu lawas khas Jepang. Selain menikmati kuliner, Anda sekaligus bisa  merasakan budaya Jepang zaman dulu. Di samping Odaiba Icchome Shotengai ada  Takoyaki Museum dan kios-kios yang menjual beragam takoyaki aneka rasa. Odaiba Icchome Shotengai sendiri terletak di lantai 4 Odaiba Decks yang buka mulai pukul 11.00 hingga 21.00 Waktu Tokyo.


Selasa, 14 Juni 2016

Napak Tilas Pertemuan Rangga dan Cinta

Napak Tilas Pertemuan Cinta dan Rangga





UNTUK mengisi libur lebaran tahun ini, bagi Anda yang berniat melakukan wisata ke Magelang dan Yogya, Anda bisa  mencoba ‘’napak tilas’’ tempat wisata yang dikunjungi Cinta dan Rangga dalam film Ada Apa dengan Cinta 2?. Dalam film tersebut, dikisahkan Cinta dan Rangga berpetualang seharian penuh dengan mengunjungi  beberapa lokasi, di antaranya Punthuk Setumbu, Rumah Doa Bukit Rhema, Candi Ratu Boko, hingga nongkrong di Klinik Kopi dan menonton pertunjukan wayang boneka, Papermoon Puppet Show.
            Salah satu tempat misterius yang dikunjungi Cinta dan Rangga adalah Punthuk Setumbu, sebuah bukit setinggi kurang lebih 400 meter dpl yang terletak di gugusan pegunungan Menoreh, Dusun Kerahan, Desa Karangrejo, Borobudur, Magelang. Bukit ini dari Yogyakarta dapat ditempuh sekitar 1 jam perjalanan menggunakan kendaraan pribadi. Dulunya tempat ini merupakan ladang penduduk. Namun, setelah seorang fotografer mengabadikan gambar sunrise Borobudur nan epik dari bukit Punthuk Setumbu, orang-orang pun berdatangan mengunjungi tempat ini untuk menyaksikan matahari terbit. Bagi yang ingin menyaksikan keindahan Borobudur di kala fajar dan menunggu sunrise, Anda harus berada di tempat ini sebelum pukul 05.00 WIB.



            Untuk mencapai bukit ini cukup mudah, terdapat petunjuk arah menuju lokasi. Dari depan Taman Wisata Candi Borobudur, Anda bisa mengambil jalan menuju hotel Manohara, kemudian lurus menuju ke arah perbukitan Menoreh. Tak jauh dari situ ada pertigaan dan petunjuk arah bertuliskan Borobudur Nirvana Sunrise. Ambil jalan ke kanan mengikuti petunjuk arah hingga sampai di tempat parkir bukit Punthuk Setumbu. Dari parkiran yang ada di kaki bukit, Anda harus melakukan  treking sekitar 15 menit untuk mencapai puncak dengan rute berupa jalan makadam dan tanah. Bagi yang tidak kuat treking hingga puncak, tak jauh dari tempat parkir terdapat gazebo di mana wisatawan sudah bisa menyaksikan Borobudur dari kejauhan.


            Puncak Punthuk Setumbu sendiri berupa pelataran luas yang dikelilingi pagar pembatas. Di tempat ini terdapat rumah panggung, gazebo, dan kursi-kursi kayu yang bisa digunakan duduk menanti mentari terbit. Meskipun perjalanan treking di pagi hari sedikit melelahkan, namun hal tersebut akan terbayarkan saat menyaksikan sapuan kabut Borobudur yang perlahan terangkat naik dan mentari yang muncul dari balik gunung, terlihat begitu indah.  Waktu terbaik untuk datang ke tempat ini adalah saat musim kemarau yaitu sekitar bulan Juni hingga Agustus. Pada bulan-bulan ini matahari dapat terlihat dengan jelas tanpa diselimuti mendung. Selain itu trek menuju bukit tidak becek. Sedangkan jika ingin memotret candi Borobudur berselimutkan kabut, pengunjung bisa datang kapan saja. Wisatawan yang ingin menikmati keindahan sunrise dari Bukit Punthuk Setumbu wajib membayar retribusi sebesar Rp 15.000/orang.
            Puas menyaksikan sunrise, Anda bisa meneruskan petualangan ke Rumah Doa Bukit Rhema, yang ada di Dusun Gombong Desa Kembanglimus Magelang,  cukup berjalan kaki 10 menit dari bukit Punthuk Setumbu.   Orang-orang menyebut Rumah Doa Bukti Rhema  ini dengan sebutan "Gereja Ayam" karena desain bangunannya mirip seekor ayam yang memiliki ekor dan kepala. Jika dilihat dari udara, bangunan ini lebih terlihat menyerupai burung raksasa yang sedang berada di tengah hutan. Di sekitar bangunan ini masih terdapat pepohonan yang rindang dan semak belukar sehingga membuat udara pagi terasa sejuk.  Sebenarnya Gereja Ayam ini sudah terkenal di kalangan muda-mudi Yogyakarta dan Magelang. Setiap akhir pekan atau libur panjang, setidaknya ada ratusan wisatawan yang mengunjungi tempat ini.




            Sang pemilik bangunan, Daniel Alamsjah menyebut bahwa tempat ini bukan gereja, melainkan rumah ibadah yang diperuntukkan bagi seluruh umat yang percaya akan Allah. Pria ini mengatakan bahwa rumah doa ini sebenarnya ingin dibuat mirip burung merpati yang merupakan lambang dari perdamaian, ketulusan hati dan kelemahlembutan. Tetapi karena kekurangan biaya, pembangunannya tidak dilanjutkan. Ketika pengerjaan berhenti, sisi depan berbentuk mirip kepala ayam dan sisi belakang sudah terbentuk ekor. Jadi, orang-orang sekitar menyebutnya sebagai ‘’Gereja Ayam’’.


            Tarif masuk  ke tempat ini hanya Rp 5.000, Anda bisa menjelajahi bagian dalam "Gereja Ayam", termasuk memanjat hingga ke bagian puncak menaranya. Bagian utama bangunan  berupa sebuah aula yang berukuran sangat besar dan tidak diisi oleh perabot apa pun. 


Edukasi Sejarah dan Kopi

            Selain Punthuk Setumbu dan Rumah Doa Bukit Rhema, perjalanan tak terduga dari kebersamaan sehari  Cinta dan Rangga,  salah satunya terjadi di tempat bersejarah,  Kompleks Percandian Istana Ratu Boko yang dibangun abad ke-8. Lokasinya tidak jauh dari Candi Prambanan, tepatnya di jalan raya Prambanan-Piyungan.  
            Kompleks Percandian Istana Ratu Boko sendiri merupakan sebuah bangunan megah yang dibangun pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran, salah satu keturunan Wangsa Syailendra. Istana yang awalnya bernama Abhayagiri Vihara (berarti biara di bukit yang penuh kedamaian) ini didirikan untuk tempat menyepi dan memfokuskan diri pada kehidupan spiritual. Dari tempat ini, Anda bisa merasakan kedamaian sekaligus melihat pemandangan kota Yogyakarta dan candi Prambanan dengan latar gunung Merapi.



            Istana ini terletak pada ketinggian 196 meter di atas permukaan laut. Areal istana seluas 250.000 m2 terbagi menjadi empat, yaitu tengah, barat, tenggara, dan timur. Bila masuk dari pintu gerbang istana, Anda akan langsung menuju ke bagian tengah. Dua buah gapura tinggi akan menyambut Anda. Gapura pertama memiliki 3 pintu sementara gapura kedua memiliki 5 pintu. Sekitar 45 meter dari gapura kedua, Anda akan menemui bangunan candi yang berbahan dasar batu putih sehingga disebut candi Batu Putih. Tak jauh dari situ, akan ditemukan pula candi Pembakaran yang berbentuk bujur sangkar (26 meter x 26 meter) dan memiliki 2 teras. Sesuai namanya, candi itu digunakan untuk pembakaran jenazah. Selain kedua candi itu, sebuah batu berumpak dan kolam akan Anda temui bila berjalan kurang lebih 10 meter dari candi Pembakaran.


            Sementara sumur penuh misteri akan Anda temui bila berjalan ke arah tenggara dari candi Pembakaran. Sumur itu bernama Amerta Mantana yang berarti air suci yang diberikan mantra. Hingga kini, airnya pun masih sering dipakai. Masyarakat setempat mengatakan, air sumur itu dapat membawa keberuntungan bagi pemakainya. Sementara orang-orang Hindu menggunakannya untuk upacara Tawur Agung sehari sebelum Nyepi.
            Melangkah ke bagian timur istana, Anda akan menjumpai dua buah gua, kolam besar berukuran 20 meter x 50 meter dan stupa Budha yang terlihat tenang. Dua buah gua itu terbentuk dari batuan sedimen yang disebut Breksi Pumis. Gua yang berada lebih atas dinamakan gua Lanang sedangkan yang berada di bawah disebut gua Wadon. Persis di muka gua Lanang terdapat sebuah kolam dan tiga stupa. Berdasarkan sebuah penelitian, diketahui bahwa stupa itu merupakan Aksobya, salah satu Pantheon Budha.
            Meski didirikan oleh seorang Budha, istana ini memiliki unsur-unsur Hindu. Itu dapat dilihat dengan adanya Lingga dan Yoni, arca Ganesha, serta lempengan emas yang bertuliskan "Om Rudra ya namah swaha" sebagai bentuk pemujaan terhadap Dewa Rudra yang merupakan nama lain Dewa Siwa.  Dan, sebagai sebuah bangunan peninggalan, Istana Ratu Boko memiliki keunikan dibanding peninggalan lain. Jika bangunan lain umumnya berupa candi atau kuil, maka sesuai namanya istana ini menunjukkan ciri-ciri sebagai tempat tinggal. Itu ditunjukkan dari adanya bangunan berupa tiang dan atap yang terbuat dari bahan kayu, meski kini yang tertinggal hanya batur-batur dari batu saja. Meskipun hanya tinggal bongkahan puing-puing, wisatawan tetap datang ke objek wisata ini


           
Selain  mengunjungi tiga tempat  di atas, Cinta dan Rangga juga mengunjungi Klinik Kopi milik Khusyu Firmansyah alias Pepeng yang berada di  Jl. Kaliurang Km7.5, Ngaglik, Sleman.  Kedai kopi ini terbilang sederhana, namun, cukup istimewa. Anda akan menemukan sebuah rumah unik berkonsep eco friendly yang dihiasi tanaman di sekelilingnya. Selain bisa menyicip ragam rasa kopi dari seluruh Indonesia, seperti Nagari Lasi, Takengon, Si Tujuh dan Solok, Lencoh Merapi, Papua, Java Tabacco, Anda diperbolehkan melihat langsung proses penyajian kopi, mulai dari penggilingan biji kopi sampai kopi diseduh langsung oleh tangan sang pemilik.





            Sambil menyaksikan proses pembuatan kopi, Pepeng akan menceritakan kisah di balik kopi yang  Anda minum, mulai dari asal kopi tersebut sampai petani yang menanamnya. Di sini Anda juga bisa berkonsultasi langsung mengenai jenis kopi yang cocok untuk Anda minum.  Harga secangkir kopi di kedai ini sangat terjangkau,  sekitar Rp 15.000. Selain itu, tersedia juga makanan ringan seperti pisang dan singkong goreng sebagai teman minum kopi.





Pertunjukan Multi Dalang Papermoon Puppet

SAAT bereuni,  Cinta dan Rangga kembali merasakan kedekatan ketika menyaksikan pertunjukan wayang boneka yang  dibawakan sekelompok seniman dari Yogya, Papermoon Puppet Show.  Sejoli ini mengunjungi studio Papermoon yang semula berlokasi di Jalan Langensuryo, Yogyakarta kini pindah ke Ds Sembungan, RT 2 Bangunjiwo, Kasihan, Bantul.
Papermoon Puppet Show adalah pertunjukkan teater boneka yang didirikan pada tanggal 2 April 2006 oleh sepasang suami istri Iwan Effendi dan Maria Tri Sulistyani atau Ria. Pentas boneka di sini tidak diperuntukkan bagi anak-anak karena membawakan pertunjukkan yang mengangkat isu-isu dewasa. Papermoon Puppet Theatre sudah melanglang buana ke mancanegara. Mereka sering mementaskan teater boneka di festival-festival seni di beberapa negara, seperti di Kuala Lumpur, Philadelphia, New York, Washington DC, New Delhi, Thailand, Filipina, Jepang dan yang terbaru di tiga kota di Inggris.




            Beberapa judul yang dipentaskan di sini, di antaranya Noda Lelaki di Dada Mona (2008), Mau Apa? (2009-2010), Mwathirika (2010-2013), Secangkir Kopi dari Plaja (2011), dan Laki-Laki Laut (2013). Khusus untuk  Ada Apa Dengan Cinta 2, Papermoon menampilkan karya Secangkir Kopi dari Plaja dengan sentuhan baru.  Pertunjukkan yang diangkat dari cerita nyata cinta yang sempat hilang ini dirasa sama dengan kisah antara Cinta dan Rangga. Tekstur wajah boneka saat pementasan diambil dari dekat yang membuat seakan boneka itu nyata. Dengan musik yang membuat 'hidup' cerita Secangkir Kopi dari Plaja ini tetap hadir tanpa dialog,


            Pertunjukan teater boneka ini berbeda dengan pergelaran wayang di mana dalang selalu duduk di balik layar sebagai sutradara tunggal, yang terdengar hanya dinamika suaranya yang mewarnai beragam tokoh karakter wayang. Tapi Papermoon menawarkan warna kontemporer di dunia teater, yaitu  bagaimana mengawinkan konsep dalang yang biasanya tunggal, menjadi multi dalang yang dimainkan oleh sejumlah orang yang memegang boneka-bonekanya. Manusia dan boneka berkolaborasi di atas panggung yang sama dan sangat hemat kata. Penonton dilatih untuk membaca gerak dan simbol.