Jumat, 31 Juli 2015

Terios Borneo Wild Adventure


Berburu ‘’Surga’’ di Kalimantan
Bersama 
Daihatsu Terios Adventure

          
       Sebagai orang Indonesia, sudah pasti saya berkeinginan untuk menginjakkan kaki di pulau Kalimantan atau Borneo. Apalagi belakangan, saya banyak ‘’diteror’’ oleh foto-foto keindahan Kalimantan yang diunggah di media sosial maupun situs traveling.  Rasanya tak sabar untuk segera menginjakkan kaki dan melihat dari dekat pulau ini, kemudian menuliskan pengalaman selama berpetualang di Kalimantan untuk dikirimkan ke media massa, dan meng-uploadnya  ke blog dan media sosial.
Kalimantan atau Borneo menurut saya merupakan ‘’pulau seribu keajaiban’’. Sebagai salah satu wilayah yang memiliki hutan hujan tropis terbesar dan menjadi ‘’paru-paru’’ dunia, pulau yang satu ini menyimpan banyak rahasia keindahan alam. Tak heran jika pecinta petualangan di alam terbuka, tertarik untuk menjelajah dan mengeksplorasi pulau ini. Tak hanya keindahan alamnya, Kalimantan juga kaya akan sejarah, budaya, serta sajian kuliner khas.

Orang utan Kalimantan--foto :Net


Dari lima wilayah administratif Kalimantan, yaitu Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Utara, provinsi pertama yang ingin saya jelajahi dan eksplorasi adalah Kalimantan Timur.  Karena di provinsi Kalimantan Timur, ada  pulau Maratua yang menjadi destinasi impian saya sejak lama. Keinginan saya ini mungkin sama seperti impian kebanyakan orang Indonesia (dan juga traveler mancanegara) yang ingin membuktikan kebenaran adanya ‘’sepotong surga yang bocor’’ di Maratua. Konon, pulau Maratua yang terletak di Kepulauan Derawan ini sangat indah, tak kalah dengan Maldives Island sehingga banyak yang menjuluki pulau ini sebagai ‘’Maldives from Borneo’’.


Hamparan air laut berwarna biru toscha di pulau Maratua--foto : Net

Suasana damai dan nyaman di Maratua--foto : Net

Dari foto-foto yang saya lihat dan review tulisan yang saya baca, pulau Maratua memang memiliki pesona yang luar biasa, berupa hamparan  pasir putih, air bening yang memantulkan warna biru tosca, dan terdapat gua serta danau yang unik, yaitu danau ubur-ubur. Dan, di sekitar perairan Maratua terdapat taman laut dengan ragam biota laut, seperti ikan, cumi-cumi, lobster, gurita, kuda laut, belut laut serta batu karang ‘’blue trigger wall’’, tempat bersembunyinya ikan trigger sehingga menjadikan tempat ini sebagai salah satu lokasi diving dan snorkeling terbaik di dunia. Tapi saya belum percaya dengan semua foto yang saya lihat dan tulisan yang saya baca, jika belum melihat dengan mata kepala sendiri keindahan pulau ini, merasakan sentuhan air laut dan pasir putih yang menempel manja di kaki, serta  ''bercengkerama''  dan berfoto dengan ikan serta ubur-ubur di bawah permukaan air laut. 
Tak sekadar menikmati keindahan laut beserta isinya, saya juga ingin mendapatkan pengalaman lebih serta merasakan ''kehidupan yang baru'' dengan tinggal beberapa hari di pulau Maratua. Saya akan mengunjungi empat desa yang terdapat di pulau ini dan berinteraksi langsung dengan penduduk asli suku Bajo (Bajau) atau yang terkenal dengan nama ‘’Gypsy Laut’’. Saya ingin tinggal di rumat adat suku Bajo, rumah panggung yang dibangun di atas perairan ataupun di atas karang-karang laut, merasakan tinggal di perahu dan ikut berlayar mencari ikan, sekaligus mengamati dan mempelajari bagaimana penduduk setempat yang memiliki mata pencaharian sebagai nelayan menerapkan ilmu maritim. Mungkin waktu sehari dua hari tak akan cukup, namun,  meski  hanya sebentar, saya yakin saat berinteraksi langsung dengan suku Bajo, saya akan mendapatkan banyak pengalaman, ilmu serta referensi hidup langsung dari sumbernya.

Rumah suku Bajau--foto : Net
Anak-anak suku Bajau--foto : Net

Kehidupan di laut Suku Bajau--foto : Net

Ya, meski mimpi utama saya bisa menginjakkan kaki di pulau Maratua, tapi tak ada salahnya sekali merengkuh dayung, beberapa destinasi bisa dikunjungi.  Saya berkeinginan menjelajah kawasan lain di Kalimantan Timur, dengan mengunjungi Taman Nasional Kayan Mentarang, di mana Suku Dayak Kenyah, Punan, Lun Daye, dan Lun Bawang, tinggal di sekitar taman nasional ini. Melihat dari dekat kehidupan suku Dayak yang hidup harmonis berdampingan dengan lingkungan, dan alam serta menelusuri jejak warisan arkeologi seperti tempat pemakaman dan peralatan batu kuna akan membuat khasanah, ilmu dan referensi tentang sejarah dan budaya saya akan bertambah. Semua itu akan semakin meningkatkan rasa cinta sekaligus keinginan untuk menjaga warisan budaya Indonesia.

Bekantan di hutan Kalimantan--foto : Net
            Melakukan petualangan alam, sejarah dan budaya,  tak lengkap rasanya tanpa  mencoba aneka kuliner khas  Kalimantan. Saya ingin menjawab rasa penasaran tentang makan khas Lontong Orari yang legendaris di Banjarmasin. Adanya ungkapan  "rugi Anda hidup kalau belum makan Lontong Orari", membuat saya tak sabar ingin merasakan lontong yang dimasak dalam waktu 7 jam yang dilengkapi dengan sayur nangka serta ikan haruan sebagai lauk pelengkapnya. Apakah lidah jawa saya bisa beradaptasi dengan kuliner Kalimantan, dan benarkah lontong ini bisa mengalahkan kelezatan lontong sejenis yang pernah saya makan sebelumnya? Jawabannya akan saya ceritakan setelah  merasakan langsung Lontong Orari di Banjarmasin.

Kuliner khas Lontong Orari Banjarmasin--foto : Net

            Untuk bisa menguak rahasia keindahan pulau Maratua, dan melihat dari dekat kehidupan suku Bajo dan suku Dayak, serta menikmati kuliner khas Kalimantan, tak cukup hanya berbekal  mimpi dan keinginan saja. Namun, juga tekat dan niat yang kuat untuk merealisasikannya dalam sebuah perjalanan  menjelajah lokasi-lokasi tersebut. Dan banyak yang harus dipersiapkan untuk ekspedisi  tersebut karena medan petualangan di pulau Kalimantan sangat menantang.  Alam yang liar, jalanan yang ekstrem berupa dataran tinggi, dataran rendah, hutan lebat, semak belukar, jalanan menanjak, berbatu, berlumpur, harus ditaklukkan, untuk mencapai destinasi impian.
            Selain stamina fisik dan mental yang bagus, perjuangan untuk mencapai destinasi impian membutuhkan ‘’teman perjalanan’’ yang tangguh, andal, dan bisa menyesuaikan diri dalam semua situasi dan medan, serta bisa berkompromi soal biaya.  Untuk masalah yang satu ini,  saya akan memercayakan kepada mobil New Daihatsu Terios, mobil berjenis SUV (Sport Utility Vehicle) keluaran terbaru Astra Daihatsu Motor. Dari beberapa jenis mobil New Daihatsu Terios, saya memilih Daihatsu Terios R A/T Adventure untuk membawa saya menuju destinasi impian. Ada banyak alasan yang membuat saya menjatuhkan pilihan kepada New Daihatsu Terios sebagai ''sahabat dalam petualangan''.

Daihatsu Terios R Adventure, ''sahabat'' petualang sejati--foto : Net
             Tak semua mobil bisa diandalkan dan tangguh saat menerabas medan berat dan membelah hutan belantara menuju lokasi habitat orang hutan, bekantan, bunga anggrek langka yang ada di hutan, melewati jalan berlumpur di sekitar rawa  untuk melihat kerbau air dari dekat, serta melintasi rute menuju pulau Maratua yang jalannya tak selalu enak dan mulus. New Daihatsu Terios, mobil berkapasitas mesin 1500cc, dengan akselerasi sekitar 12 detik  dengan tenaga  maksimal yang dapat dicapai 109 PS/6000 rpm dengan torsi maksimal 14.4/4.400 ini dibuat untuk menerobos tantangan berat medan, termasuk menjelajah Kalimantan. Selain itu, mobil ini juga cukup irit bahan bakar, sehingga tak mudah ''haus'' bensin.
            Jika mobil yang digunakan selama ekspedisi tidak bisa mengantisipasi kondisi jalan di Kalimantan yang ekstrem dan tak terduga, tentu akan membuat penumpang di dalamnya merasa tidak nyaman. Namun, suspensi New Daihatsu Terios R Adventure yang telah menggunakan 5-link Rigid Axle dengan per keong, ditambah dengan ground mampu meredam goncangan sehingga penumpang tak perlu khawatir perutnya akan mual seperti dikocok-kocok dan tubuhnya terguncang-guncang hebat. Selain itu, pada fitur keamanan, mobil ini sudah dilengkapi dengan window jam protection untuk melindungi atau mengurangi risiko pengemudi agar tidak terjepit kaca pintu mobil. Side impact beam juga dipasang untuk melindungi pengemudi dan penumpang dari benturan samping.

Penyempurnaan aneka fitur--foto :autobild.co.id

Posisi kemudi yang dilengkapi aneka fitur yang menunjang keselamatan dan kenyamanan--foto:daihatsunews,com

            Berpetualang dan berada di jalanan selama 10 hari, menembus medan yang berat, lebih banyak duduk di dalam mobil, bisa dipastikan akan menghadirkan kejenuhan. Belum lagi saat harus naik turun mobil untuk makan, buang hajat, beristirahat, rasanya paling malas dan ribet jika harus bolak balik menekuk kursi di bangku kedua di saat penumpang yang duduk di bangku ketiga hendak naik ataupun turun. Namun, New Daihatsu Terios memberikan solusi dengan menghadirkan one touch tumble pada bangku baris kedua yang memudahkan penumpang keluar-masuk dari dan ke bangku baris ketiga.

interior tempat duduk yang menunjang kenyamanan--foto :Daihatsunews.com

Petualangan di daerah pedalaman, menyusuri perbukitan, sungai, hutan, rawa,  tak harus membuat kita jauh dari ‘’peradaban’’, komunikasi dan hiburan. New Daihatsu Terios juga mengerti kebutuhan pengendara dan penumpang di dalamnya dengan memberikan fasilitas hiburan untuk menetralisir kejenuhan selama berada dalam perjalanan. Interior mobil dilengkapi dengan pusat informasi dan hiburan yang canggih dengan head unit 2DIN dengan layar sentuh. Perangkat ini juga sudah terkoneksi dengan bluetooth untuk memutar musik atau melakukan panggilan. Cukup mudah mengoneksikan ponsel ke bluetooth, sehingga bisa tersambung dengan beberapa gadget sekaligus. Di dalam sistem juga sudah tersimpan layanan navigasi yang siap membantu saat dibutuhkan. Ingin melihat film dengan resolusi tinggi, ada konektor kabel HDMI di konsol tengah, berdekatan dengan konektor USB.

Fasilitas hiburan di dalam mobil--foto : Daihatsunews.com
Bisa menjelajah alam menuju destinasi impian dengan kendaraan yang nyaman dan tangguh, memang menjadi impian para petualang sejati. Dan, New Daihatsu Terios akan mewujudkan keinginan saya untuk melihat dari dekat sisi liar Borneo.

Sahabat sejati untuk menjelajah medan berat di Kalimantan--foto :otomotif.net







Tidak ada komentar:

Posting Komentar