Sabtu, 27 Februari 2016

Desa Sade Lombok



Menyaksikan Kearifan Lokal Suku Sasak
di Desa Sade



            
Jika Anda mengunjungi Pulau Lombok, sempatkanlah mengunjungi Desa Sade atau Sade Village yang berada di Rembitan, Pujut, Lombok Tengah.  Sade merupakan desa wisata yang menawarkan pengalaman unik kepada wisatawan untuk melihat dari dekat kehidupan suku Sasak, suku asli yang mendiami Pulau Lombok.  Lokasi Desa Sade tidak jauh dari Bandara Internasional Lombok (BIL), terletak persis di pinggir jalan raya antara Praya-Kuta, atau sekitar 30  km dari kota Mataram. Apabila menggunakan kendaraan,  tempat ini dapat ditempuh dalam waktu satu jam perjalanan.



            Begitu Anda tiba di kawasan Sade, atmosfer desa tradisional langsung menyapa. Di area parkir mobil dan motor yang berada di tepi jalan,  terdapat plang berbentuk rumah adat Sasak bertuliskan  ‘’Welcome to Sasak Village, Sade, Rembitan, Lombok’’. Tak jauh dari sana, beberapa pemuda pemandu wisata, berdiri menyambut, siap mengantarkan pengunjung untuk berkeliling desa. Dari tempat parkir, Anda mesti menyeberangi jalan untuk memasuki area perkampungan Sade.




Melangkahkan kaki melewati gapura desa, sebelum masuk lebih jauh, Anda akan diminta mengisi buku tamu dan memberikan sumbangan seikhlas hati untuk perawatan desa. Kawasan perkampungan Sade ini terdiri dari gang-gang sempit dengan jalan yang naik turun atau split level. Karena itulah, Anda harus berjalan kaki untuk mengelilingi dan melihat-lihat keadaan di desa ini. Saat memasuki kampung, Anda akan disambut dengan untaian kain berjajar rapi dan aneka cinderamata khas Lombok yang dipajang untuk dijual, hampir di setiap rumah yang ada di desa ini.   





Dimin, pemandu wisata yang merupakan warga setempat menceritakan sejarah dan seluk beluk Desa Sade yang memiliki luas lebih kurang 6 hektar dan ditinggali sekitar 150 kepala keluarga.  Ya, hanya ada 150 rumah yang  di sana karena pemerintah daerah setempat bersama-sama dengan pemangku adat desa memang mempertahankan keaslian adat istiadat lokal di desa ini. Menurut peraturan desa, warga tidak boleh membangun pemukiman baru lagi di Desa Sade. Perkampungan ini berdiri sejak 1907, dan pada tahun 1979 dibuka menjadi tempat wisata.





Yang menarik dari keberadaan kampung ini adalah rumah adat suku Sasak yang terbuat dari kayu dengan dinding dari anyaman bambu, beratapkan daun rumbia atau daun alang-alang kering, kuda-kuda atapnya memakai bambu tanpa paku. Lantai dari rumah dibuat dari campuran tanah, getah pohon dan abu jerami yang kemudian diolesi dengan kotoran kerbau. Meski setiap rumah memiliki bentuk yang sama, tetapi dibedakan berdasarkan fungsinya, yaitu Bale Tani, Jajar Sekenam, Bonter, Kodong, Beleq, Berugag, Tajuk dan Bencingah. Bale Bonter merupakan rumah yang dimiliki oleh pejabat desa. Bale Kodong ditinggali warga yang baru menikah atau orangtua untuk menghabiskan masa tua, dan  Bale Tani yang digunakan sebagai tempat tinggal. Sementara Berugag merupakan sebuah bangunan panggung berbentuk segi empat yang tidak memiliki dinding, berfungsi sebagai tempat untuk menerima tamu, dan juga digunakan sebagai tempat untuk bersantai atau untuk pertemuan internal keluarga.




Anda bisa melihat lebih detail Bale Tani yang merupakan rumah tempat tinggal. Griya tradisional ini memiliki teras rendah dengan tangga tiga buah. Semua itu memiliki filosofi, teras rumah yang rendah mengandung maksud agar tamu merunduk saat masuk dan keluar rumah. Yang melambangkan supaya kita ingat kepada Yang Maha Kuasa, ingat kepada orang tua. Keunikan yang lain dari Bale Tani adalah pintu untuk keluar masuk rumah hanya ada satu, yaitu di bagian depan rumah. Tinggi pintu rumah hanya setinggi ukuran orang dewasa bahkan lebih rendah lagi. Sehingga untuk memasuki rumah ini, Anda harus membungkukkan badan agar kepala tidak terbentur bagian atas pintu.








Rumah suku Sasak ini begitu sederhana, berukuran sekitar 7 x 5 meter dan dibagi menjadi dua ruangan, yaitu bale luar dan bale dalam.  Bale luar adalah area untuk menerima tamu sekaligus ruang tidur bagi laki- laki.  Meski dipergunakan untuk menerima tamu, namun, jangan Anda bayangkan ada seperangkat meja kursi tamu di bale luar  






Di ruang ini, Anda hanya akan menemui tempat tidur dan lemari serta beberapa barang-barang lainnya. Sementara itu,  bale dalam letaknya di belakang dari bale luar dan dihubungkan oleh anak tangga.  Untuk mencapai pintu masuk ke bale dalam yang ukurunnya lebih mini lagi dibandingkan dengan ukuran pintu masuk rumah, Anda harus menapaki 3 anak tangga.  Jumlah anak tangga ini pun tidak sembarangan dan memiliki arti tersendiri.  Menurut Dimin, jumlah anak tangga itu sesuai dengan filosofi  ‘’Wetu Telu’’ di mana menurut kepercayaan suku Sasak hidup manusia itu termaknai dalam 3 tahapan yaitu lahir, berkembang dan mati.  Sementara, bale dalam adalah ruang yang lebih privasi. Di sini terdapat tungku untuk memasak dan ruangan tidur untuk perempuan yang juga digunakan untuk ruangan melahirkan.  Bale dalam tidak memiliki jendela dan penerangannya hanya berasal dari lampu  yang terletak di pojok ruangan.






Dimin menceritakan, salah satu keunikan dari perawatan lantai Bale Tani adalah dengan menggosok lantai dengan kotoran kerbau yang masih baru, dicampur sedikit air. Kemudian setelah kering disapu dan digosok dengan batu.  Meski demikian, di dalam rumah ini tidak tercium bau menyengat dari kotoran kerbau tersebut. Menurut  Dimin penggunaan kotoran kerbau ini berfungsi untuk membersihkan lantai dari debu, memperkuat lantai, serta menghangatkan rumah di malam hari. Masyarakat Sasak percaya bahwa kotoran kerbau tersebut dapat mengusir serangga sekaligus menangkal serangan magis yang ditujukan pada penghuni rumah.
            Di tengah-tengah perkampungan, Anda akan menjumpai lumbung padi khas suku Sasak atau disebut berugag. Berugag inilah yang menjadi ikon di setiap bangunan pemerintah yang terdapat di Pulau Lombok.  Berugag berfungsi sebagai tempat penyimpanan hasil bumi dan bagian bawah bangunannya yang tidak berdinding sering dipergunakan oleh masyarakat setempat sebagai tempat untuk berkumpul. Di desa ini juga terdapat bangunan  masjid, dan balai pertemuan yang letaknya tidak jauh dari pintu gerbang desa. 



            Dulu, penduduk Desa Sade menganut Islam Wektu Telu (hanya tiga kali salat dalam sehari). Tapi sekarang, banyak penduduk yang sudah meninggalkan Wektu Telu dan memeluk Islam sepenuhnya, Di desa yang hampir sebagian besar penduduk desa, baik laki-laki dan perempuan mengenakan sarung ini, juga memiliki budaya kawin lari. Orang Sasak tidak mengenal lamaran sehingga untuk menikah si pria harus membawa lari si perempuan. Kawin lari ini dilakukan, ketika pasangan ingin menikah. Si laki-laki membawa kabur perempuan selama dua sampai tiga malam tidak boleh diketahui keluarga perempuan. Kemudian ada utusan keluarga laki-laki yang menjelaskan ke orang tua perempuan, sebagai bentuk permintaan anak perempuannya akan dinikahi. Dimin menambahkan anak gadis yang dinikahkan di Desa Sade rata-rata berumur 16-17 tahun, atau rata-rata lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Dan, salah satu syarat perempuan Sade bisa menikah, harus bisa menenun. Jika tidak bisa maka tidak boleh menikah. Sementara, untuk laki-laki di Desa Sade masih ada yang berpendidikan SMA, namun kebanyakan tetap bekerja sebagai petani di desanya.
Sebagian besar warga Desa Sade hidup dari kegiatan bertani, menjadi pengrajin kain tenun ikat khas Lombok dan pengrajin cinderamata. Di tempat ini, Anda bisa melihat  dari dekat proses pembuatan kain tenun ikat dan proses pemintalan benang yang dikerjakan oleh warga setempat. Semua warga perempuan di desa Sade memiliki keahlian menenun. Mereka biasanya memulai menenun setelah bekerja di sawah ataupun ladang. Perempuan Sasak bisa menghabiskan waktu satu bulan untuk menenun songket. Sementara untuk ukuran yang lebih kecil, seperti taplak meja atau sajadah, hanya membutuhkan waktu satu minggu. Tenun Sasak memiliki banyak motif, di antaranya Sabuk Antang, Subhanala, Tapok Kemolo, dan Ragi Genep.









Namun, dalam perkembangannya, saat ini ada beberapa produk buatan luar desa yang dijual di Sade, seperti tas. Bahan tas sebenarnya berasal dari tenun karya warga Sade. Namun karena tidak ada mesin jahit di Desa Sade, kain tersebut dijahit di luar. Semua produk kerajinan tenun penduduk Sade dihargai bervariasi, mulai puluhan sampai ratusan ribu, tergantung jenis dan ukuran. Selain tenun,  Anda juga akan mendapati aneka aksesoris buatan warga setempat seperti kalung, gelang ataupun wadah perhiasan yang bisa Anda jadikan sebagai oleh - oleh dari Lombok. Beberapa motif yang sering menghiasi aksesoris tersebut biasanya berupa cicak, yang merupakan simbol keberuntungan menurut masyarakat setempat. 

Kamis, 25 Februari 2016

Pantai Kuta Lombok dan Pantai Seger


Menyapa Putri Mandalika Lewat Ritual Bau Nyale





Pulau Lombok di provinsi Nusa Tenggara Barat, kini tengah berbenah di sektor pariwisata. Sejak Bandara Internasional Lombok (BIL) dibuka menggantikan Bandara Selaparang,  kunjungan wisatawan dalam dan luar negeri, terus meningkat. Terlebih pada hajatan The World Halal Travel Summit & Exhibition 2015 di Abu Dhabi, Lombok menyabet dua penghargaan,  yaitu World's Best Halal Honeymoon Destination dan World's Best Halal Tourism Destination.
Ya, pulau Lombok memang memiliki banyak pilihan tempat wisata, seperti pantai yang masih alami, gunung, rumah tradisional, dan tempat bersejarah. Tiga tempat yang wajib Anda kunjungi saat berwisata ke pulau Lombok adalah pantai Kuta (disebut pantai Kuta karena berada di desa Kuta) dan pantai Putri Nyale, serta Desa Sade.  Ketiga tempat ini ada di kawasan Lombok Tengah. Pantai Kuta dan pantai Putri Nyale berada pada posisi yang strategis dan mudah dijangkau dengan menggunakan berbagai sarana transportasi. Jika berangkat dari Mataram diperlukan waktu kurang lebih 1,5 jam. Sedangkan jarak dari Bandara Internasional Lombok (BIL) dibutuhkan waktu kurang lebih 20 menit saja.
Pantai Kuta Lombok sendiri, seiring dengan adanya program Visit Lombok-Sumbawa  dan keinginan untuk lepas dari brand image pantai Kuta Bali yang sangat kuat, maka disosialisasikan perubahan nama menjadi pantai Mandalika. Kawasan pantai Kuta ini masuk wilayah inti dalam pengembangan Mandalika Resort yang nantinya diharapkan menjadi pusat pariwisata terpadu kelas dunia. Pantai ini dicanangkan menjadi ikon Lombok selain pantai Senggigi yang sudah populer. Pada tanggal 9 Februari 2016 lalu, pantai Kuta juga terpilih sebagai tempat acara puncak perayaan Hari Pers Nasional.

Pintu gerbang pantai Kuta Lombok


Di pantai Kuta Lombok atau pantai Mandalika, Anda akan menemukan pesona keindahan alam yang luar biasa, perpaduan antara pemandangan laut dan perbukitan. Hamparan pasir putih yang bertekstur seperti merica dengan deburan ombak di garis pantai dan pemandangan terumbu karang yang menjorok ke laut, dipastikan akan menghipnotis wisatawan. Perbukitan yang mengepung pantai, pada saat musim penghujan terlihat menghijau, menyejukkan mata. Pada saat air laut surut, Anda akan mudah menemukan biota laut seperti ganggang, bintang laut dan teripang. Beberapa spot sangat menarik, misalnya bukit yang ditumbuhi sebatang pohon dengan ranting-ranting menjuntai yang keluar dari tumpukan karang. Dari titik ini, Anda bisa mengambil gambar lanskap yang memukau, berupa perpaduan antara garis pantai, air laut dan bukit.

Pantai Kuta Lombok

Pantai Kuta Lombok

Di sepanjang pantai selain tumbuh pohon-pohon yang rindang untuk berteduh, juga terdapat beberapa berugak (istilah sasak untuk menyebut gazebo) untuk beristirahat. Di sini, Anda bisa melakukan serangkaian kegiatan, seperti surfing, snorkeling, atau bermain air dan pasir sambil menunggu momen sunset yang indah. Jika Anda datang ke pantai Kuta untuk tujuan surfing atau snorkeling, maka waktu terbaik kunjungan pada periode bulan Juli-Agustus di mana alunan ombak cukup ideal untuk kegiatan berselancar ataupun menyelam.

Pantai Kuta Lombok

Selain mengunjungi langsung, ada alternatif lain menikmati keindahan pantai Kuta, yaitu melihatnya dari Bukit Mandalika. Dari puncak bukit, Anda dapat menyaksikan horizon indah yang terbentang di depan mata dengan lanskap seantero pantai Kuta yang berair jernih. Bahkan dari puncak bukit ini, Anda dapat melihat gugusan terumbu karang yang berdiri tegar dihempas alunan ombak laut.

Ritual Berburu Nyale

Puas menikmati pantai Kuta, Anda  bisa berjalan ke arah timur sejauh 2 kilometer. Anda akan menjumpai pantai Putri Nyale atau disebut juga pantai Seger. Pantai ini masih menjadi bagian dari pantai Kuta Lombok karena berada pada garis yang sama. Pemandangan di sini tak kalah menakjubkan dan lebih cocok untuk kegiatan surfing dan snorkeling. Seperti pantai lainnya yang ada di Lombok Tengah, pantai Seger cenderung masih sepi. Pantai ini memiliki air yang berwarna biru jernih, berpasir putih dan menampilkan panorama batu karang yang menyembul dari tengah laut yang kerap kali disebut dengan batu tengkong (batu jamur) yang dapat dicapai oleh pengunjung saat air laut surut. Pantai Seger yang indah ini ternyata juga menyimpan legenda Putri Mandalika dan tradisi berburu cacing nyale yang diadakan setiap tahun. Pesta atau upacara Bau Nyale merupakan sebuah peristiwa dan tradisi yang sangat melegenda dan mempunyai nilai sakral tinggi bagi suku Sasak, suku asli pulau Lombok. Tahun ini, upacara Bau Nyale diselenggarakan pada tanggal 28 Februari.


Pantai Putri Nyale atau Pantai Seger

Keberadaan upacara ritual Bau Nyale berkaitan erat dengan kisah tentang Putri Mandalika, anak dari pasangan Raja Tonjang Beru dan Dewi Seranting dari Kerajaan Tanjung Bitu. Saat dewasa, Putri Mandalika tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan memesona. Kecantikannya tersebar hingga ke seluruh Lombok sehingga pangeran-pangeran dari berbagai kerajaan seperti Johor,  Lipur, Pane, Kuripan, Daha, dan Beru berniat untuk mempersuntingnya. Sang Putri menjadi gusar, karena jika dia memilih satu di antara mereka maka akan terjadi perpecahan dan pertempuran di Bumi Sasak. Setelah berpikir panjang, sang Putri memutuskan untuk mengundang seluruh pangeran beserta rakyat Tanjung Bitu untuk bertemu di pantai  Seger sebelum Subuh, pada tanggal 20 bulan ke 10 menurut perhitungan bulan Sasak. Undangan tersebut disambut oleh seluruh pangeran beserta rakyat, sehingga tepat pada tanggal tersebut mereka berduyun-duyun menuju lokasi undangan.
Saat sang Putri Mandalika muncul dengan diusung oleh prajurit-prajurit yang menjaganya, dia berhenti dan berdiri di sebuah batu di pinggir pantai. Setelah mengatakan niatnya untuk menerima seluruh pangeran dan rakyat, Putri Mandalika pun meloncat ke dalam laut. Seluruh rakyat yang mencari tidak menemukannya. Setelah beberapa saat muncul sekumpulan cacing warna-warni yang dipercaya masyarakat sebagai jelmaan Putri Mandalika. Tersohornya  legenda tersebut, membuat pemerintah setempat membangun monumen Putri Mandalika yang menggambarkan saat-saat terakhir putri cantik itu sebelum meloncat ke laut.

Monumen Putri Mandalika

Ritual berburu nyale atau cacing


Nyale hasil tangkapan


Pada saat upacara ritual Bau Nyale, ribuan warga hadir untuk berburu cacing di pantai Seger. Sebelum matahari terbit, warga mulai turun ke pantai dengan membawa jaring dan senter. Mereka menangkap cacing laut atau nyale yang dipercaya sebagai jelmaan Putri Mandalika. Cacing yang berhasil ditangkap kemudian dimasak atau dimakan mentah-mentah karena dipercaya mengandung protein yang tinggi. Warga percaya dengan banyaknya jumlah nyale yang diperoleh, mereka akan mendapatkan berkah melimpah. Selain itu, nyale juga kerap disebar ke sawah dan dipercaya sebagai pupuk yang menyuburkan tanaman.

Salah satu adegan drama Putri Mandalika

Dan sejak berkembangnya pariwisata, upacara Bau Nyale selalu dirangkaikan dengan berbagai kesenian tradisional seperti Betandak (berbalas pantun), Bejamik (pemberian cindera mata kepada kekasih), serta Belancaran (pesiar dengan perahu). Dan tidak ketinggalan pementasan drama kolosal Putri Mandalika.