Minggu, 10 Januari 2016

Jalan-Jalan Seoul Korea Selatan


Mengeksplorasi Secret Garden Hingga Wisata Pinggir Sungai


Jika Anda sedang jalan-jalan ke Seoul, Ibukota Korea Selatan, pastikan mengunjungi kawasan yang sering muncul di drama kolosal dan video klip, yaitu istana Gyeongbokgung dan Changdeokgung, Gwanghwamun Square serta  Cheonggyecheon Stream.


UNTUK tujuan pertama, Anda bisa mengunjungi Gyeongbokgung, istana tertua dan terbesar yang dibangun pada saat pemerintahan Dinasti Joseon (1392-1910). Gyeongbokgung yang berarti ‘’istana yang diberkati oleh surga’’ ini terletak di kaki Gunung Baegak. Untuk sampai ke sini, Anda bisa naik Subway (kereta) menuju Gyeongbokgung Station (Line 3, Exit 5), atau dari Ganghwamun Station (Line 5, Exit 2), lanjutkan berjalan kaki, sekitar 400 meter.



Istana yang pernah menjadi lokasi syuting drama Saranghae, I Love You ini memiliki empat pintu masuk, dari arah timur, barat, utara dan selatan (pintu utama). Jika menilik sejarahnya, istana yang diarsiteki Jeong do jeon  ini pernah hancur pada saat invasi Jepang ke Korea tahun 1592-1598 dan dibangun kembali pada tahun 1860-an dengan 330 buah kompleks bangunan dengan 5.792 kamar. Berdiri di wilayah seluas 410.000 meter persegi, istana ini merupakan simbol keagungan kerajaan dan rakyat Korea. Setelah pembunuhan Maharani Myeongseon oleh mata-mata Jepang pada tahun 1895, Raja Gojong meninggalkan istana ini bersama anggota keluarganya dan tidak pernah kembali.


Arsitektur istana-istana di Korea dibangun selaras dengan alam, termasuk Gyeongbokgung yang dibangun seolah merupakan bagian dari gunung Baegak yang berdiri megah menjadi latar istana ini. Ada tiga lapis pintu gerbang yang harus dilalui untuk sampai ke istana tempat raja bertahta menyelenggarakan pemerintahan yang disebut Geunjeongjeong.  Masing-masing pintu gerbang dibatasi oleh lapangan batu yang sangat luas. Di sisi Geunjeongjeong ada kolam buatan yang besar. Di tengah kolam berdiri paviliun Gyeonghoeru seluas 931 meter persegi, tempat raja mengadakan jamuan. Di belakang Geunjeongjeong juga ada taman yang sangat luas. Di salah satu bagian taman ada kolam buatan lain yang di tengahnya berdiri bangunan serupa kuil yang disebut Hyangwonjeong. Itu adalah tempat raja bersantai untuk membaca, merenung, juga berkencan dengan ratu dan selir-selirnya. Di seberang pintu masuk utara, Anda bisa melihat Blue House, kantor presiden Korea.


Di kompleks Gyeongbokgung juga terdapat dua museum yaitu The National Palace Museum of Korea  dan National Folk Museum. Di National Folk Museum of Korea terdapat sekitar 2.240 artefak dan alat-alat yang digunakan oleh masyarakat Korea pada masa lalu sampai sekarang. Bangunan museum ini didesain mengikuti arsitektur bangunan kuil Buddha terkenal di Korea. Misalnya, bagian depan museum dirancang menyerupai dua buah jembatan batu di kuil Bulguk, dan bagian utama bangunan adalah pagoda kayu lima tingkat yang menyerupai Aula Palsang di kuil Beopju. Sayap bangunan di sebelah timur mengikuti desain Aula Mireuk di Kuil Geumsan dan sayap barat menyerupai Aula Gakhwang di kuil Hwaeom.
Pada sore hari, sekitar pukul 16.00 waktu setempat, di istana ini, Anda bisa menyaksikan prajurit pergantian jaga atau disebut royal guard changing ceremonies. Di depan sebuah pintu gerbang yang amat tinggi dan besar, suara gendang ditabuh satu demi satu dalam ritme yang tetap. Sejumlah lelaki jangkung berbalut hanbok (pakaian tradisional Korea) dengan seragam merah, biru, putih, sambil membawa pedang, tombak dan bendera, berbaris rapi, dipimpin seorang komandan, kemudian menyerahkan tugasnya kepada komandan pengganti. 











Jika Anda ingin mengenakan hanbok seperti para prajurit tersebut, pengelola menyediakan fasilitas gratis berupa peminjaman kostum prajurit Korea. Anda tinggal menunjukkan paspor saja. Anda bisa memilih beberapa model dan warna busana, seperti merah, atau biru. Jika istana ini sedang dipadati pengunjung, Anda harus sabar mengantre. Namun, beberapa petugas terlihat sigap memberi pelayanan dan mengganti pakaian pengunjung kemudian memberikan kesempatan sekitar 5 menit untuk berfoto dengan latar belakang istana Gyeongbok.




Jam buka istana pada bulan Maret-Oktober pukul 09.00-18.00 waktu setempat. sedangkan untuk bulan November-Februari pkl 09.00-17.00. Istana Gyeongbok tutup setiap hari Selasa. Harga tiket masuk 3.000 Won dan setengah harga untuk anak-anak usia 7-18 tahun.

Secret Garden dan Gwanghwamun

Satu kilometer dari Gyeongbokgung, terdapat  satu istana lagi, yang tak boleh Anda lewatkan, yaitu  Changdeokgung, istana megah peninggalan pemerintahan Raja Taejo yang paling terawat hingga kini.  Istana ini lebih lama ditempati. Saat Dinasti Joseon berakhir pada tahun 1910, istana Changdeok dijadikan aset pemerintah dan dibuka untuk umum.  Bersama Benteng Hwaseong, istana Changdeok dilestarikan sebagai Situs Warisan Dunia Unesco pada tahun 1997. Sebagai tempat peristirahatan raja-raja pada tahun 1405, tak heran jika tempat ini didesain dengan begitu indah dan detail. Istana ini terdiri dari 3 bagian utama, yakni area publik, tempat tinggal keluarga raja dan taman belakang yang luas. 
Changdeokgung yang berarti ‘’istana kebajikan gemilang’’ mulai dianggap sebagai tempat yang penting setelah berkuasanya raja ke sembilan Dinasti Joseon, yakni Raja Seongjong. Namun bukan berarti istana ini tanpa melewati cerita yang dramatik karena pada 1592, Changdeokgung terbakar dan keluarga kerajaan memilih meninggalkan istana selama invasi Jepang di Korea. Beruntung, oleh Pangeran Gwanghaegun pada tahun 1611, istana ini dibangun kembali.





Keistimewaan istana ini ada pada penggabungan elemen-elemen arsitektur era tiga kerajaan yakni Kerajaan Goguryeo, Baekje dan Silla yang selaras dengan alam. Elemen pertama yang akan Anda lihat adalah gerbang Donhwa yang merupakan gerbang utama Istana Changdeok yang berarti “gerbang transformasi kebenaran”. Anda juga akan melihat balai Huijeong. Ruangan ini digunakan sebagai tempat berdiskusi raja dengan para menteri.
Bagian istana yang terakhir namun justru yang sering mengundang decak kagum adalah taman belakang atau yang disebut Huwon, sering disebut juga dengan Geumwon (forbidden garden) dan Biwon (secret garden). Taman ini memiliki luas 74 are dan terdiri atas bentang alam berbentuk dataran bergelombang dengan 35 bangunan besar dan kecil, 7 buah kolam buatan serta hutan lebat yang dilengkapi dengan aliran mata air. Dari semua komposisi ini, hanya 1 persen yang dibuat oleh manusia. Itulah mengapa saat Unesco memasukkan istana ini ke dalam situs warisan dunia, mereka menuliskan bahwa taman ini adalah contoh pengecualian arsitektur dan rancangan istana dari timur jauh yang berpadu secara harmonis dengan pemandangan sekelilingnya.  Taman ini ditumbuhi pohon raksasa yang berumur lebih dari 300 tahun. Waktu yang paling istimewa untuk menikmati Huwon adalah pada saat musim gugur di mana dedaunan berubah menjadi warna warni. Di dalam istana, terdapat pula pohon Juniper China yang telah berusia 750 tahun, dan merupakan salah satu pohon tertua di Korea.




Setelah puas berkeliling di dua istana, Anda bisa mengunjungi Gwanghwamun Square, yang  tak jauh dari istana Gyeongbok. Gwanghwamun pertama kali dibangun pada tahun 1395, tetapi hancur karena serangan Jepang pada tahun 1592 dan terbengkalai hingga lebih dari 250 tahun. Pada tahun 1867, gerbang ini pun dibangun kembali pada masa pemerintahan Raja Gojong. Gerbang ini pun berkali-kali mengalami rekonstruksi hingga akhirnya menjadi gerbang megah seperti yang bisa kita saksikan saat ini dan  pada 1 Agustus 2009, resmi dijadikan objek wisata.  Lokasi ini sering muncul dalam berbagai drama, bahkan klip musik juga sering dilakukan di sini. Pada waktu-waktu tertentu juga sering diadakan berbagai festival.








Di Gwanghwamun Square, Anda bisa menemui Patung Admiral Yi Sun-Shin, seorang laksamana yang sangat terkenal jasanya dalam sejarah Korea. Ia meraih kemenangan dalam perang Imjin pada masa Dinasti Joseon melawan Jepang. Tak heran patungnya kini bertakhta di lokasi landmark kota Seoul. Anda juga bisa menjumpai patung Raja Sejong, raja keempat pada masa Dinasti Joseon dan salah satu dari dua raja yang mendapat gelar “The Great”. Ia memerintah pada tahun 1418 hingga 1450. Raja Sejong mencatat banyak prestasi besar semasa kepemimpinannya. Salah satu yang paling utama adalah ia menciptakan aksara Korea yang bernama Hangul. Sebelumnya, masyarakat kelas atas masa itu menggunakan aksara China (Hanja) untuk menulis.




Selain dua patung ‘’pembesar’’ Korea pada masa lalu, Anda bisa mengeksplorasi museum bawah tanah “King Sejong Story” dengan pintu masuknya di bawah patung “King Sejong”. Selain itu terdapat deretan air mancur yang terdapat di bawah patung “Admiral Yi Sun-sin”.

Wisata Pinggir Sungai

Menjelang malam, Anda bisa melanjutkan jalan-jalan ke kawasan Cheonggyecheon Stream atau sungai Cheonggye yang merupakan bagian penting dari sejarah kota Seoul. Cheonggyecheon adalah sebuah aliran sungai kecil sepanjang hampir 11 kilometer di pusat kota Seoul. Pada tahun 1950-an pasca Perang Korea, daerah bantaran Sungai Cheonggye merupakan kawasan permukiman kumuh seperti Ciliwung di Jakarta. Dan pada dekade berikutnya (1960-an-1970-an) menjadi saksi keberhasilan industrialisasi dan modernisasi Korea Selatan.


Sebelumnya, kali ini ditutupi oleh jalan tol, namun kemudian direstorasi, aliran airnya dikembalikan seperti sediakala. Upaya restorasi sungai Cheonggye sempat menghebohkan publik dunia. Proyek  besar ini dimulai dari tahun 2003 sampai tahun 2005 oleh mantan walikota yang menjadi presiden Korea Selatan (2008–2013 ), Lee Myung-bak, dan menghabiskan dana hingga 900 US Dollar
Kini Cheonggye menjelma menjadi tempat rekreasi pedestrian yang super cantik. Sungai itu menjadi indah dengan sentuhan desain arsitektur kelas dunia. Tepian sungai ditata rapi hingga nyaman untuk pejalan kaki. Pada malam hari, cahaya berpendaran di kawasan ini sehingga menambah kesan mewah. Cheonggyecheon Stream pun menjelma menjadi kawasan wisata yang romantis. Banyak pasangan yang melamar atau menyatakan cintanya di sini. Sekitar bulan November ditempat ini diadakan festival lampion yang dikenal dengan Seoul Lantern Festival. Oh iya, Anda bisa sepuasnya menikmati kawasan pedestrian cantik ini tanpa dipungut biaya.




Di tempat ini, Anda juga bisa menemui jembatan Narae, mewakili keindahan kupu-kupu terbang, dan jembatan Gwanggayo, menjadi simbol harmoni masa lalu dan masa depan, yang merupakan dua di antara 20 jembatan indah lainnya yang berfungsi sebagai alat untuk menyeberangi sungai ini. Dinding jembatan dilapisi marmer dan ukiran, dan palseokdam juga menghiasi sungai Cheonggye.




Di sini, Anda juga bisa masuk ke Plaza Cheonggye, area seluas 2.500 meter persegi,  yang berlokasi di hilir sungai Cheonggye. Tempat ini dibuat berdasarkan desain tradisional bojagi (kain pembungkus warna-warni), memperlihatkan keindahan kerajinan batu tradisional.  Plaza Cheonggye tidak pernah tidur sehingga para pengunjung dapat menikmati penampakan indah cahaya dan air setiap malam.   Di plaza ini juga terdapat maket atau model Cheonggyecheon yang membuat pengunjung dapat melihat pemandangan dari sudut pandang seperti burung saat sungai Cheonggye belum dirapikan. Di dalam plaza, terdapat plakat yang memperlihatkan 22 jembatan yang ada di sepanjang sungai, begitu pula dengan sejumlah air mancur yang menambah indah area ini. Setelah menyelesaikan pembangunan Plaza Cheonggye, pemerintah kota Seoul mendesain area itu menjadi zona bebas kendaraan selama liburan, sehingga menjadi tempat yang nyaman bagi pejalan kaki.


Rabu, 06 Januari 2016

Namsan Tower Korea Selatan


Namsan Tower
Saksi Kisah Cinta Dari Berbagai Negara


Ingin menghabiskan waktu bersama pasangan dan menikmati suasana romantis saat berada di Seoul Korea Selatan? Anda bisa mengunjungi N Seoul Tower, atau disebut juga Namsan Tower atau Seoul Tower.






NAMSAN Tower sebenarnya merupakan menara pengamat dan komunikasi setinggi 237 meter, dibangun tahun 1969, yang berada di gunung Nam. Menara yang dibangun dengan biaya sekitar $ 2,5 juta ini dibuka untuk umum pada tahun 1980. Tempat ini tidak pernah sepi pengunjung, baik wisatawan lokal maupun dari luar Korea Selatan. Tak hanya sebagai kawasan wisata, Namsan Tower  juga sering dipakai untuk syuting drama Korea dan acara televisi, di antaranya My Girl, Boys Before Flowers, Princess Hours, My Love From Another Star, Rooftop Prince, dan MBC Variety  Show ‘’We Got Married’’. Selain itu, dalam rangka promosi wisata, pemandangan N Seoul Tower ditampilkan di MV Super Junior dan SNSD bertajuk Infinitely Yours, Seoul. 



          
  Mobil dan motor dilarang naik hingga ke area Namsan Tower, sehingga untuk mencapai tempat ini Anda harus memilih beberapa moda transportasi yang tersedia, seperti subway, bus,  kereta gantung (cable car) ataupun berjalan kaki. Jika ingin naik subway, pilih line 4 dengan arah Chungmuro Station, lalu turun di exit 4, setelah itu Anda bisa menumpang bus yang memutari Namsan. Kemudian turun di Palgakjeong. Jika Anda ingin menikmati pemandangan kota Seoul dan Namsan Park tampak dari atas, naik saja cable car. Untuk mencapai stasiun cable car, caranya naik subway, turun di Myeongdong Station (line 4, exit 3) lalu jalan kaki kira-kira 15-20 menit ke stasiun cable car. Bagian tiket ada di lantai 3. Saat weekend, cable car ini biasanya penumpang membludak, sehingga harus sabar mengantre. Harga tiketnya sekitar  Rp 48 ribu untuk single trip. Cara lainnya yaitu dengan menggunakan Namsan Oreumi yaitu semacam kereta yang terbuat dari kaca. Kereta ini mampu menampung hingga 20 penumpang, dan Anda tidak dipungut biaya.







            Jika Anda suka jalan kaki sambil menikmati suasana pegunungan, datanglah pada pagi hari untuk trekking di Namsan Walking Trail. Dari Myeongdong Station kereta bawah tanah (subway, line 4), jalan kaki melalui gang sebelah hotel Pacific. Dari sini, Anda sudah bisa melihat Namsan Tower. Susuri saja jalannya hingga ke atas. Jalan menuju Namsan Tower lumayan menanjak dan cukup jauh. Namun, Anda tak akan bosan meski melakukan trekking karena Anda bisa menelusuri tanjakan di sepanjang jalan menuju tempat yang memiliki slogan ‘’A Romantic Island in The City’’, dan berhenti di spot yang bisa dijadikan tempat istirahat sambil berfoto-foto. Saat musim gugur tempat ini terlihat sangat indah dengan daun warna-warni. Sementara, waktu musim semi (cherry blossoms), bunga-bunga putih terlihat cantik menghias ranting-ranting pepohonan.






            Jika menginginkan suasana lebih romantis, Anda bisa datang menjelang senja untuk menyaksikan matahari terbenam. Pada malam hari, Anda bisa menikmati  tata lampu teknologi LED atau light art gabungan berbagai medium seni. Karena keindahan dan inovasinya, tak heran, menara yang pada tahun 2008 memenangkan grand prize dari World Tower Federation atas inovasinya ini menjadi simbol kebanggaan kota Seoul.


`


Menggembok Cinta 

            Setelah sampai di teras Namsan Tower, Anda akan menjumpai pelataran luas. Anda bisa beristirahat dan menikmati rindangnya pepohonan, atau menyaksikan beberapa atraksi kesenian yang digelar di sana. Jika sudah berada di sini, jangan lewatkan naik ke menara. Anda bisa membeli tiket naik ke tower dan masuk museum teddy bear seharga Rp 150 ribu di ticket booth Plaza 1F. Namun, jika hanya melihat-lihat di sekitar menara dan di teras gembok cinta (love lock) saja, Anda tak dikenai biaya.
            Karena tempatnya yang tidak terlalu besar, setiap pengunjung mendapat giliran naik ke tower sesuai jam yang diberlakukan. Menuju lift, Anda diminta berhenti sejenak untuk diabadikan fotonya. Petugas memberikan kupon yang bisa dipakai untuk menebus foto setelah  Anda berada di atas. Di dalam lift, suasana gelap, hanya dihiasi temaram lampu warna warni yang berbentuk kerlap kerlip bintang. Saat lift mulai berjalan seluruh pengunjung diajak untuk melihat animasi digital yang ada di atap lift, yang membuat kita seakan terbang ke luar angkasa.



            Sampai di puncak Namsan Tower, Anda akan menjumpai observatory room dan beberapa toko souvenir  dan aneka macam merek kosmetik Korea. Anda bisa melihat pemandangan kota Seoul melalui teleskop.  Menariknya, di kaca-kaca menara terdapat jarak tempuh dari Seoul menuju kota-kota di negara lain seperti Vancoauver, Kanada, juga Jakarta. Jangan lupa pula mencoba sky restroom atau toilet yang didesain seperti negeri di awan, ruangannya dikelilingi kaca. Konon, toilet lelaki lebih menarik lagi. Urinoirnya menghadap kaca sehingga terasa seakan-akan buang air kecil sambil melayang di atas langit.
            Setelah melihat Kota Seoul, Anda bisa nongkrong di restoran bergaya barat bernama “N Grill“ di puncak menara (tower 5F). Yang menarik bukan makanannya, tapi restoran  ini berputar setiap 1 jam 40 menit, jadi di mana pun  Anda duduk, tetap bisa menikmati pemandangan Seoul dari empat arah. Sebelum datang ke restoran ini, pastikan Anda sudah melakukan reservasi. Jika tak ingin makan berat, Anda bisa mengunjungi Sky Cafe untuk menyesap kopi sambil menikmati suasana.





            Setelah melihat kota Seoul melalui teleskop, Anda bisa melangkahkan kaki ke museum teddy bear di lantai bawah menara, Masuk ke dalam, Anda akan disambut dengan  boneka teddy bear yang sangat besar dan menggemaskan. Di dalam museum, ada banyak diorama teddy bear yang dibuat dalam berbagai cerita. Secara garis besar, tema teddy bear di museum ini dibagi menjadi kisah masa lalu, dan masa kini Korea. Sebagai contoh, cerita pernikahan tradisional Korea, kisah kerajaan, sampai olahraga polo di masa lalu. Sedangkan kisah masa kini digambarkan dalam cerita boyband dan girlband, cooking manta, bahkan beberapa film Korea seperti Princess Hours, The Great Queen Seon Deok, dan Boys Before Flowers yang diperankan  oleh boneka-boneka ini. Teddy bear di museum ini juga dilengkapi dengan properti seperti baju-baju dan bangunan-bangunan sesuai cerita. Di museum ini, Anda bisa berfoto dengan boneka beruang besar di dekat pintu keluar. Ada beberapa boneka yang berdiri tegak lengkap dengan hanbok (pakaian tradisional Korea), pakaian rakyat Korea di zaman dulu, ataupun berpose bersama boneka teddy ala drama Princess Hours.




            Setelah keluar dari menara, di bagian samping, Anda bisa melihat sebuah pemandangan unik. Hampir di semua pagar yang mengelilingi menara ini dipenuhi gembok-gembok beraneka warna yang ditautkan oleh wisatawan dari berbagai negara. Tak hanya itu, ada beberapa pohon buatan yang juga dipenuhi gembok. Setelah diamati lebih detail, ternyata ini merupakan kawasan gembok cinta (love lock). Kawasan ini merupakan saksi bisu kisah cinta ribuan bahkan jutaan pasangan dari berbagai negara di dunia.  Jika Anda ingin memasang gembok cinta, Anda bisa memilih, di area dasar yang berupa deretan menyerupai pohon, dan yang kedua di lantai atas. Bersama kekasih, Anda bisa mengabadikan dan menggembok ‘’rasa cinta’’, lalu kunci gemboknya dibuang, sebagai pengharapan hubungan  akan abadi dan tak akan  pernah putus. Sebaiknya Anda membawa gembok sendiri, karena jika membeli di tempat ini, terbilang cukup mahal, sekitar Rp 92 ribu.






            Menurut Times Korea, tradisi memasang gembok cinta atau love lock ini diawali oleh sepasang kekasih yang terinspirasi dengan kebiasaan yang sama dan telah ada di Menara Tokyo Jepang. Kemudian hal ini banyak ditiru oleh selebriti Korea sehingga makin terkenal. Bahkan diabadikan dalam salah satu film Thailand yang berjudul Hello Stranger. 

----------------------------------------------------------------------------------------------------------

5 Rekomendasi Tempat


* Roof Terrace/Love Lock

Menghabiskan petang dan menanti senja di sini pasti akan menjadi momen tak terlupakan. Selain memasang gembok cinta, di sini Anda bisa melihat panorama Seoul yang sangat menakjubkan. Anda juga bisa mampir ke The Place Dining (Plaza 2F), sebuah restoran Italia yang terkenal dengan menu-menunya yang lezat. Sebagai bagian dari kampanye menjaga kelestarian Gunung Nam, setiap hari Rabu para anggota Green Team dari Namsan Tower akan membersihkan kunci-kunci yang dibuang pengunjung di area Gunung Nam.







* The Wishing Pond

Di kolam permohonan yang ada di lantai dua (Tower 2F), para pengunjung dapat melemparkan heart coin yang dipercaya akan mengabulkan keinginan atau pengharapan cintanya. Sebagian dari koin yang terkumpul disumbangkan untuk pengembangan sekolah-sekolah remaja di China dan Asia Tenggara melalui CJ’s Donors Camp.




* Digital Observatory

Berada di lantai ketiga menara (Tower 3F), tempat ini menyajikan panorama Seoul dari 360°. Agar lebih puas, masukkan koin ke mesin teropong yang tersedia untuk menikmati detail-detail setiap sudut Seoul. Di sini juga terdapat fasilitas audio guide untuk pengunjung. Jangan lupa mampir ke toko souvenir bernama THE BA:NG yang menjual berbagai suvenir bertema cinta, wisata, dan Namsan Tower.




* Namsan Park

Taman ini sangat bersejarah karena dahulu pernah menjadi pusat pertahanan Korea. Pada masa Kerajaan Joseon (1392-1910), ibukota Korea dipindahkan ke Hanyang (sekarang Seoul) dan untuk melindungi kota dari serangan musuh, dibangunlah empat dinding kastil di Gunung Bukaksan, Inwangsan, Naksan, dan Namsan. Di puncak Namsan terdapat lima buah Bonghwadae (Beacon Mound) yang berguna untuk mengirimkan sinyal berita dari pemerintahan lokal ke pemerintahan pusat. Dari sini kita juga bisa menikmati panorama yang cantik. Pepohonan yang asri membuat acara duduk-duduk santai pun semakin menyenangkan. Ada berbagai fasilitas yang dapat dinikmati pengunjung, seperti kolam, pergola, air mancur, jam bunga, dan lain-lain. Untuk yang ingin berolahraga bisa memanfaatkan sarana kolam renang, lapangan tenis dan bisbol, area memanah, area roller skate, dan lapangan bulu tangkis. Fasilitas edukasi yang tersedia adalah perpustakaan, taman botani luar ruangan, An Jung-geun Memorial Hall, dan pusat budaya.




* Namsan Walking Trail

Area jogging sepanjang tujuh kilometer yang melingkari Namsan Tower ini masih termasuk dalam area Namsan Park. Sepanjang tahun pengunjung dipersilakan menikmati agenda jalan santai di sini, pada musim apa pun. Barisan pohon pinus dan bebungaan dijamin akan menyegarkan mata dan pikiran. Area jalan ini juga mengantarkan pengunjung ke Seoul Fortress dan Bongsudae (Beacon Tower). Menariknya, area pejalan kaki dilapisi oleh material penyerap gesekan, yang membuat pejalan kaki tetap merasa nyaman saat berjalan naik-turun gunung. Rute jalan di sini menghabiskan waktu dua hingga tiga jam dan di beberapa titik terdapat zona foto, yang menjadi petunjuk bagi pejalan untuk berhenti dan berfoto-foto ataupun sekadar menikmati pemandangan.