Sabtu, 05 Maret 2016

Sail Journalist 2016



SAIL JOURNALIST HARI PERS NASIONAL 2016
20 JAM BERLAYAR BERSAMA KRI MAKASSAR 590

            Sail Journalist 2016 merupakan salah satu rangkaian acara Hari Pers Nasional 2016. Saya merasa beruntung bisa ikut serta dalam Sail Journalist yang berlangsung pada tanggal 5-6 Februari 2016. Saya turut berlayar dari Surabaya menuju pulau Lombok (tempat acara puncak HPN 2016) bersama kapal perang milik TNI Angkatan Laut, KRI Makassar 590. Tentu tak semua orang mendapatkan kesempatan langka ini. Saya sendiri mendapatkan undangan mengikuti Sail Journalist dan mengikuti rangkaian HPN 2016 dari Sekolah Jurnalisme Indonesia. 


KRI Makassar tampak depan

            Sedianya start Sail Journalist 2016 akan diberangkatkan dari Jakarta, namun, Kepala Staf TNI AL menyarankan, start pelayaran dimulai dari Surabaya.  Karena pertimbangan waktu tempuh, Jakarta-Lombok sekitar 44 jam, sementara Surabaya ke Lombok, lebih pendek, hanya sekitar 20 jam. Awalnya kapal yang akan dipakai untuk pelayaran adalah KRI Dokter Soeharso. Namun, KRI ini sedang menjalankan misi kemanusiaan sehingga KRI Makassar dipilih sebagai penggantinya.


tema HPN 2016

            Saya melihat, peringatan HPN 2016 dikemas lebih istimewa dari tahun-tahun sebelumnya.  Dengan mengusung tema,  ‘’Pers Yang Merdeka Mendorong Poros Maritim dan Pariwisata Nusantara”, peringatan  ini bukan hanya didukung oleh TNI Angkatan Laut yang meminjamkan KRI Makassar 590 untuk pelayaran, tapi juga disupport sepenuhnya oleh pemerintah provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Peringatan puncak HPN 2016 yang dilaksanakan di Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika Resort NTB pada tanggal 9 Februari 2016 ini, juga merupakan salah satu upaya promosi pariwisata NTB.
            Banyak pengalaman  yang saya dapatkan dari Sail Journalist ini. Salah satunya, saya bisa mengunjungi markas Komando Armada RI Kawasan Timur atau disingkat Koarmatim yang membawahi wilayah laut Indonesia bagian timur yang lokasinya berada di Dermaga Ujung,  Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Koarmatim merupakan pangkalan utama, terbesar, dan tempat berkumpulnya hampir setengah kekuatan armada TNI AL. Saat ini Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur (Pangarmatim) dijabat oleh Laksamana Muda (Laksda) TNI Darwanto, S.H., M.A.P


Sudut Koarmatim



Sudut koarmatim yang lain

            Karena peserta Sail Journalist naik Kapal KRI Makassar dari Dermaga Ujung ini, maka saya harus masuk ke kawasan terbatas yang tidak sembarang orang bisa berada di sini. Kebetulan saya datang ke markas Koarmatim lebih awal, tidak bersama rombongan lainnya. Saya harus melapor dua kali, dan ‘’diinterogasi’’ untuk bisa menembus penjagaan berlapis dan banyak papan larangan masuk untuk umum.
            Setelah masuk ke wilayah Koarmatim yang diresmikan pada tanggal 30 Maret 1985 ini, perasaan kagum dan bangga menyelimuti, karena Indonesia dan TNI AL ternyata memiliki pangkalan kapal perang yang bagus dan representatif. Dari kawasan ini, saya bisa melihat pemandangan laut utara Surabaya, jembatan Suramadu yang membentang menyeberangi selat Madura, serta puluhan kapal perang Indonesia.  Sambil mengisi waktu, saya mengajak Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) Koarmatim Letkol Laut (KH) Maman Sulaeman berbincang-bincang. Kadispen  menerangkan, secara administratif, fasilitas di Dermaga Ujung masuk dalam Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut V (Lantamal V) Surabaya. Dari 11 Lantamal yang ada, Lantamal V adalah yang terbesar dan terlengkap. Dengan fasilitas dermaga yang cukup besar, Dermaga Ujung menjadi home base bagi kapal perang (KRI) yang bertonase besar, selain juga rumah bagi armada KCR (Kapal Cepat Rudal), LST (Landing Ship Tank), dan LPD (Landing Platform Dock). Fasilitas bagi kapal selam pun paling memadai di sini, dengan dermaga khusus  yang memiliki atap pelindung, sehingga kapal selam tidak ‘’kepanasan’’ dan sisi kerahasiaan lebih terjamin.


Deretan kapal perang di Dermaga Ujung

           

Puas berbincang dengan Kadispen, saya pun berkeliling di sekitar Koarmatim. Sejak pertama masuk kawasan ini, mata saya langsung tertuju pada sebuah patung raksasa seorang perwira menengah.  Saya pun mencoba mendekatinya. Ternyata patung yang berdiri di sebuah bangunan bundar tersebut merupakan Monumen Jalesveva Jayamahe (Monjaya) yang terkenal itu.  Nama ''Jalesveva Jayamahe'' diambil dari slogan TNI AL yang berarti ‘’di laut kita tetap jaya’’. Mumpung di sini, saya tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengeksplorasi Monjaya.   
            Sebagai informasi, masyarakat umum bisa masuk ke Monjaya dengan syarat harus mengajukan surat.  Idealnya surat permohonan dikirim dua minggu sebelum kunjungan. Surat ditujukan kepada Pangarmatim dengan tembusan ke Gubernur AAL, Asintel Pangarmatim, Asops Pangarmatim, Asintel Danlantamal III, dan Kepala Dinas Penerangan Koarmatim. Pengurusan  surat izin ini akan lebih mudah diproses jika mengontak langsung ke Dispen Koarmatim. Jika perizinan sudah beres, tinggal memilih jalan masuk ke gerbang Monjaya. Ada dua akses menuju gerbang tersebut, pertama lewat Jalan Perak Timur menuju Jembatan Petekan. Akses yang kedua yaitu lewat Jalan Sidotopo.


Monjaya dan view kapal

            Saat benar-benar bisa melihat dari dekat Monjaya, saya melihat bangunan yang cukup tinggi, 60 meter, dengan rincian tinggi patung perwira 31 meter dan monumen (gedung bundar) setinggi  29 meter. Berdasarkan catatan,  Monjaya mulai dibangun pada tahun 1990, dan  menghabiskan dana 27 miliar. Monumen ini diresmikan pada 5 Desember 1996 oleh Presiden Soeharto, bertepatan dengan Hari Armada Ke- 5  RI. Pematung dan arsitek keseluruhan bangunan ini adalah Drs. Nyoman Nuarta (yang juga membuat patung tembaga Garuda Whisnu Kencana Bali) yang tergabung dalam Nyoman Nuarta Group.   Monumen Monjaya menjadikan kebanggaan tersendiri bagi TNI AL, karena masuk 12 besar dari 37 tempat wisata yang ada di Kota Surabaya, untuk meraih penghargaan The Most Favorite Destination Award 2012. Jumlah pengunjung yang datang, rata-rata setiap tahun tidak kurang dari 40 ribu orang.



Monjaya

            
Dari dekat  terlihat jelas patung perwira yang menatap jauh ke permukaan Laut Jawa, berdiri tegap dalam balutan seragam PDU 1 sambil menggenggam pedang kehormatan. Sebagai pijakan patung sang perwira adalah gedung empat lantai. Patung sang perwira memiliki kulit tembaga berwarna biru kehijauan.  Saat proses pembuatan, Nyoman Nuarta mencetak tubuh patung ini di bengkel seninya di Bandung dalam bentuk potongan modul. Setelah selesai, dibawa ke Surabaya dan direkatkan satu sama lain. Untuk membuat patung ini, Nyoman mendapatkan 3000 ton tembaga dari PLN, 60 ton dari departemen komunikasi dan sejumlah tembaga bekas luruhan peluru. Patung inipun disebut-sebut tertinggi kedua di dunia setelah Patung Liberty yang berada di mulut pelabuhan New York, dengan ketinggian 85 meter.  Dan, sama halnya dengan Patung Liberty yang berfungsi memandu kapal-kapal untuk masuk Pelabuhan New York, Monjaya juga begitu. Monumen ini bisa menyala dan memandu kapal-kapal memasuki Dermaga Ujung Surabaya.


Patung perwira memandu kapal masuk ke Dermaga Ujung

            Sementara pada gedung berlantai empat, dindingnya penuh dengan diorama perjuangan bahari selama pra revolusi fisik sampai era tahun 1990-an. Di dalam gedung, wisatawan bisa melihat lebih dekat replika kapal tempo dulu, foto-foto sejarah revolusi pembebasan Laut Aru, foto kapal perang modern seperti KRI Kakap 881, KRI Katon 810, KRI Alkara 830, KRI Warakas 816, dan replika helikopter perang. Sedangkan dari lantai empat, tempat patung perwira menapakkan kaki, wisatawan bisa memandang lepas ke kawasan dermaga Tanjung Perak. Selain sebagai monumen, gedung ini sekaligus juga difungsikan sebagai executive meeting room.
            Selain patung dan gedung penuh diorama, wisatawan juga bisa melihat gong terbesar di dunia tepat di pelataran Monjaya. Gong berbahan kuningan berlapis antikarat tersebut diberi nama Kiai Tentrem. Bobotnya lebih dari 2 ton  dan berdiameter 6 meter. Gong ini dibuat oleh para perajin rumahan dari Desa Pelemlor, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.


Gong Kyai Tentrem

            Setelah puas melihat-lihat isi Monjaya, saya pun mampir ke pujasera yang berjarak 300 meter dari Monjaya. Di tempat ini selain banyak kedai makanan, juga penjual  souvenir dan berbagai atribut TNI Angkatan Laut.

Melihat Isi KRI Makassar

            Puas melihat-lihat Monjaya, saya kembali ke lapangan di depan KRI Makassar ‘’terparkir’’. Saya tak menyia-nyiakan momentum untuk mengambil gambar kapal ini dari berbagai sudut, sebelum upacara pelepasan peserta Sail Journalist 2016 dimulai,  pada hari Jumat  5  Februari,  pukul 10.30 WIB. Di depan KRI Makassar berlabuh, terlihat para prajurit TNI AL berbaris rapi di lapangan, menghadap KRI Makassar. Sesaat kemudian,  para peserta Sail Journalist yang berjumlah sekitar 200 orang, diminta naik ke kapal perang yang terlihat begitu gagah.  Saat kaki ini melangkah masuk, menaiki tangga, kemudian berdiri di geladak kapal, perasaan bangga begitu menyelimuti karena bisa melihat dari dekat alutsista milik TNI AL yang diperuntukkan menjaga kedaulatan NKRI ini.



KRI Makassar siap melakukan pelayaran bersama wartawan 

Persiapan pelepasan Sail Journalist 2016

            
Setelah semua peserta Sail Journalist masuk kapal, termasuk di antaranya Menkominfo Rudiantara, AM Fatwa, Arswendo Atmowiloto, Whina Armada,  sesaat kemudian Ketua Dewan Pers Nasional, Bagir Manan dan Laksda TNI Al Darwanto resmi melepas pelayaran Surabaya-Lombok ini. Mars ‘’Jalesveva Jayamahe’’ yang dibawakan grup drumband para prajurit TNI AL, dan lambaian tangan  mereka,  membuat dada ini sesak, campur aduk perasaan, antara bahagia bisa naik kapal perang RI, terharu, bangga dan berbagai perasaan lain. Rasa haru dan bangga ternyata juga dirasakan peserta lain. Saya merasa seolah menjadi prajurit yang dilepas untuk melaksanakan tugas negara. Kapal bergerak menjauh dari Dermaga Ujung untuk melintas Tanjung Benoa Bali, kemudian menuju Pelabuhan Lembar di Lombok. Oh iya,  Komandan KRI Makassar-590 yang memimpin pelayaran ini adalah Letkol Laut (P) Elmondo Samuel Sianipar beserta sekitar 100 anak buah kapal menjadi sahabat peserta Sail Journalist selama pelayaran. 
Pelepasan Sail Journalist 2016

Sebelum mendapat kesempatan ikut pelayaran bersama KRI Makassar ini, saya pernah berkeinginan untuk bisa naik dan melihat dari dekat Kapal Induk Amerika. Meski cita-cita naik Kapal Induk Amerika belum kesampaian, saya sudah senang bisa melihat dari dekat, ikut berlayar, dan merasakan kehidupan di atas kapal perang KRI Makassar 590. 
            Setelah di atas di kapal, saya kemudian berkenalan dengan peserta lain. Saya bertanya apakah mereka sudah pernah naik kapal besar sekelas KRI Makassar, Ternyata  banyak peserta mengaku belum pernah naik kapal perang milik TNI AL. Saya sendiri juga belum pernah  melakukan perjalanan dengan kapal dalam waktu yang lama. Sebelum naik kapal, sahabat baik saya berpesan untuk membawa obat anti mabuk karena katanya jika ombak besar maka kapal akan mengalami goyangan yang hebat dan angin laut akan membuat kepala pusing, perut mual, tubuh masuk angin dan mabuk.  Ternyata benar, beberapa jam setelah berlayar, saya mulai merasakan tanda-tanda kepala pusing, terlebih saat kapal menerjang ombak yang besar.  Saya pun minum  obat anti mabuk.  Meski terpaksa harus menahan kantuk namun tak menjadi masalah, asalkan saya tidak mabuk.


Menit-menit pertama meninggalkan Dermaga Ujung




           

Menikmati dan  merasakan perjalanan di atas KRI Makassar, saya bisa membayangkan  kehidupan para prajurit TNI AL saat bertugas mengamankan wilayah perairan Indonesia atau menjalankan misi kemanusiaan.  Di sela-sela rangkaian acara HPN 2016 di atas kapal, seperti workshop, seminar dan diskusi, saya menyelinap untuk melihat-lihat isi kapal.
            KRI Makassar buatan Daesun Shipbuildings & Engineering Co,Ltd Korea Selatan ini ternyata merupakan kapal perang tipe kapal LPD (Landing Platform Dock) atau kapal yang mempunyai platform docking dan undocking untuk mengoperasikan LCU.  KRI Makassar dibeli pada tahun 2007. Tak hanya sekadar membeli, TNI AL pada waktu itu mengirimkan prajuritnya ke Korsel saat kapal ini tengah dalam proses perakitan. Kapal ini mempunyai panjang 122 meter, lebar 22 meter tinggi keseluruhan 35 m ini dapat mengangkut sekitar 618 personel termasuk awak buah kapal, 22 ranpur/rantis, 15  truk dan 3 helikopter. Kapal berdisplacement 7.600 ton itu, juga dilengkapi dengan landasan pendaratan helikopter (helipad). 










KRI Makassar juga dirancang khusus untuk mampu dipasang meriam 40 mm bofors, mitraliur 12,7 mm dan kanon 20 mm, juga rudal anti udara jarak pendek mistral, juga dilengkapi ruang CIC untuk sistem kendali senjata (fire control system), serta sebagai alat komunikasi dengan kapal-kapal jenis kombatan lain untuk melindungi pendaratan pasukan dan kendaraan tempur serta pengendalian pendaratan helikopter.




           
Menkominfo, ikut serta dalam Sail Journalist 2016

 Selain sebagai kapal tempur yang mempunyai fungsi utama dalam operasi amfibi untuk mengangkut pasukan beserta seluruh perlengkapan dan kendaraannya, kapal yang berteknologi desain semistealth ini juga dapat difungsikan untuk operasi kemanusiaan serta penanggulangan bencana alam sebagai kapal rumah sakit,  seperti bencana gempa di Padang, bencana di Sorong, dan bencana badai di Philipina.




KRI Makassar sendiri memiliki 8 lantai.  Geladak L (Lombok) paling bawah isinya mesin. Di atasnya,  geladak K (Kendal). Ada tank deck yang bisa memuat 25 tank dan ranpur (kendaraan tempur). Di geladak K ini terdapat sebuah dock well sebagai tempat menyimpan kapal LCU (Landing Craft Utility). LCU ini merupakan kapal pendaratan serbaguna jika KRI Makassar tidak memungkinkan untuk merapat di sebuah daratan yang sulit terjangkau.      Di atas geladak L ada geladak J (Jepara) berisi 8 barak pasukan.
            Di atasnya lagi ada geladak H (Halong) yang dapat dibilang sebagai lantai dasar KRI. Jika penumpang naik melalui tangga dari luar kapal, maka geladak ini yang pertama kali ditemui. Di geladak ini ada sebuah pos penjagaan prajurit dan car deck tempat memarkirkan mobil-mobil. Buritan kapal juga berada di geladak ini. Sebagai informasi, tiap geladak memiliki barak, dan ada kamar mandi khas prajurit. Kamar mandi di kapal ini  disekat-sekat dengan masing-masing memiliki shower untuk mandi. Di kamar mandi juga terdapat wastafel, cermin dan satu unit mesin cuci. Oh iya, kamar mandi dan tempat untuk buang hajat sengaja dipisah di ruangan lain, tidak menjadi satu. Buritan di geladak H ini untuk menempatkan tambatan-tambatan kapal. Ini adalah geladak parsial karena di sini tempat haluan yang merupakan tempat tambang tambatan kapal berada, ada rantai jangkar besar. Dapur juga berada di bagian dek ini, ranpur dan 14 mobil bisa diparkirkan di sini. Selain itu, di geladak ini juga terdapat LCVP (landing craft vechicle person) yaitu kapal khusus untuk kendaraan personel. Ruang senjata juga berada di geladak H. Sayang saat pelayaran ke Lombok, senjata tidak berada di ruangan tersebut. Senjata dan amunisi di tempat lain.  Tidak boleh semua orang masuk.  Di geladak ini juga ada komandemen, semacam ruang office, dan klinik kesehatan, seperti rumah sakit kecil.



            


Naik ke atas geladak H adalah geladak G (Garut) yang  terdapat 15 barak untuk pasukan, tempat makan dan lounge room untuk prajurit. Di geladak ini area santai terpusat. Terdapat ruang semi outdoor yang dijadikan sebagai ruang olahraga sekaligus tempat untuk berkaraoke bagi pasukan. Helipad juga berada di dek ini dan merupakan ruang terbuka. Di atas geladak G adalah geladak Flores (F) yang diperuntukkan bagi para perwira dan pejabat kapal. Ada 20 kamar yang disediakan untuk perwira. Isi kamar pun bermacam-macam. Ada 1 kamar yang bisa diisi oleh 6 orang dengan 3 kasur tingkat. Ada yang hanya berisi 1 kasur tingkat untuk 2 orang yang dilengkapi kamar mandi dalam. Di bagian deck ini pula terdapat 2 kamar VIP berukuran 5x10 meter.  Kamar  ini dipergunakan untuk presiden atau pejabat jika menginap di KRI Makassar. Presiden SBY dan Ibu Ani pernah tidur di kamar VIP ini saat Latgab TNI dan Sail Raja Ampat.  Di tiap-tiap kamar disediakan kursi santai dan meja kerja sekaligus lemari yang di dalamnya disediakan jaket pelampung. Di geladak ini pun terdapat lounge khusus untuk perwira dan tamu VIP. Lounge di sini lebih luas dan nyaman dibandingkan lounge untuk prajurit. Selain berderet beberapa meja bundar yang dikelilingi oleh kursi-kursi, untuk makan, ada sofa khusus bagi tamu VIP, televisi besar layar datar dengan sound system canggih.
            Di atas Deck Flores ada Deck E (Ende) yang merupakan tempat pengawas kapal. Selain terdapat anjungan tempat operasional kapal, di geladak inilah life craft ditempatkan. Life craft merupakan tempat penyimpanan 20 sekoci penolong yang berada di bagian sayap kanan dan kiri kapal. Selain itu ruang amunisi dan pusat informasi tempur juga berada di geladak ini. Selain sekoci, terdapat suplai makanan bagi prajurit di dalam life craft jika sesuatu hal buruk terjadi.



            


Geladak paling atas adalah Deck D (Demak) yang merupakan geladak isyarat, di mana merupakan tempat orang-orang berkomunikasi dengan isyarat di lautan. Selain ada lampu-lampu, tanda isyarat, dan bendera-bendera, persenjataan pun berada di geladak ini. Para prajurit jaga sendiri selalu bertugas untuk mengecek kapal. Ronda malam dilakukan setiap hari tepat pukul 21.00 WIB. Semua dicek, mulai dari tali-talinya, tambatannya, dapur, ruangan senjata, amunisi dan seluruh ruangan kapal.

Berlayar Sambil Belajar

            Selama perjalanan menuju Lombok, peserta Sail Journalist 2016 juga mengikuti serangkaian acara yang berlangsung di ruangan perwira Deck F.  Diskusi pertama bertema ‘’Membedah Posisi Indonesia dalam Persaingan Maritim Dunia’’ dengan pembicara Ketua DPD RI, Irman Gusman dan Menkominfo Rudiantara. Sementara jurnalis senior Arswendo Atmowiloto menjadi moderator. Sedangkan diskusi kedua bertema ‘’Perkembangan Pelaksanaan Standar Kompetensi Wartawan’’ dengan pembicara Anggota Dewan Pers, ketua PWI Margiono dan Usman Yatim dari Sekolah Jurnalis Indonesia. Diskusi dimoderatori Wakil Ketua Dewan Kehormatan PWI, Wina Armada Sukardi. Selain itu juga ada workshop penulisan bertema wisata bahari dengan narasumber Kepala Dinas Pariwisata NTB, Lalu M Faozan dan Staf Khusus Menpar Laksamana (Purn) TNI Marsetio serta praktisi media Iman Brotoseno. Moderator untuk workshop ini adalah Rita Sri Hastuti. Panglima TNI Gatot Nurmantyo bahkan menyempatkan diri menyambangi KRI Makassar menggunakan helikopter Puspenerbal sebagai bentuk dukungan dan apresiasinya terhadap kegiatan Sail of Journalist HPN 2016.


Panglima TNI, Gatot Nurmantyo memberikan dukungan

Acara diskusi bersama Menkominfo

            Di sela acara diskusi dan workshop, para peserta bebas beraktivitas. Namun dengan catatan, peserta diwajibkan menaati peraturan. Salah satunya dengan membuang sampah pada tempatnya dan tidak boleh menekan tombol sembarangan. Selesai makan, peserta harus menaruh piring kotor ditempatnya. Jika nekat, siap-siap ditegur prajurit yang bertugas. Untuk makanan, para personel TNI AL sigap membuat  dan mengolah aneka bahan menjadi menu  yang lezat seperti goreng ikan asin, opor ayam, sambal goreng, dan sayur bening. Masakan para personel ini  cukup enak, tak kalah dari chef hotel atau chef di wisata kapal pesiar.





            Sementara itu, helipad menjadi tempat favorit para peserta Sail Journalist. Di area ini, peserta bisa melihat pemandangan laut yang biru, terutama pada sore dan pagi hari. Kopi dan teh hangat menjadi teman baik ketika melihat pemandangan laut sambil berbincang akrab dengan peserta lainnya.Malam hari selepas diskusi, para peserta beristirahat di tempat tidur yang selama ini dipakai prajurit TNI AL. Kamar-kamar prajurit perempuan dan laki-laki, dipisah tentu saja. Tempat tidur bersusun dua dan dalam satu kamar bisa diisi 10-20 orang ini cukup bagus dan ada pendingin ruangan yang menyemburkan udara dingin. Namun, pada dini hari pendingin ruangan ini terasa lebih dingin sehingga sejumlah peserta menggigil kedinginan.


Debarkasi di Pelabuhan Lembar Lombok

Naik LCU menuju Pelabuhan Lembar Lombok

Di atas LCU






            Perjalanan dari Surabaya menuju Pelabuhan Lembar sendiri ditempuh lebih kurang 20 jam. KRI Makassar tiba di Lombok pada Sabtu 6 Februari dan melakukan debarkasi atau penurunan penumpang. Dengan menggunakan 2 LCU dan 2 LCVP, para peserta HPN 2016 menuju ke Dermaga Lembar. Selanjutnya KRI Makassar menuju Benoa dalam rangka melaksanakan bekal ulang untuk mempersiapkan kegiatan Pam RI 1 di Mandalika pada puncak acara HPN Selasa (9/2).



Tidak ada komentar:

Posting Komentar