Minggu, 19 Maret 2017

Lava Tour Merapi

Memotret Batu Alien di  Merapi




ERUPSI gunung Merapi, Oktober 2010, masih membekas dalam ingatan. Gunung berapi paling aktif di Indonesia itu memuntahkan materi vulkanik dan menyapu bersih tiga desa di Sleman Yogyakarta. Sebanyak 335 jiwa meninggal dalam peristiwa tersebut termasuk kuncen gunung Merapi, Mbah Maridjan. Setelah erupsi, kawasan sekitar gunung Merapi yang terletak dalam satu garis lurus dengan Tugu Jogja, Keraton, dan Pantai Parangtritis ini rata diterjang lahar dan menyisakan lautan pasir yang luas.
            Bagi yang ingin menelusuri atau napak tilas dahsyatnya amukan Merapi, Anda bisa mengikuti Merapi Lava Tour, yaitu paket menjelajahi erupsi Merapi dengan mobil berkekuatan empat penggerak, Jeep Willys.  Merapi Lava Tour menjanjikan petualangan menantang dan mendebarkan sekaligus sarat wawasan lingkungan. Penyedia layanan tur ini cukup banyak di Kaliurang. Namun, rata-rata rute yang ditempuh dalam Lava Tour dimulai dari parkiran Tlogo Putri, Mini Museum ‘’Sisa Hartaku’’, Batu Alien, Bunker Kaliadem, Petilasan Rumah Mbah Maridjan, Kali Kuning dan kembali lagi ke Kaliurang.  Untuk menikmati Lava Tour, wisatawan dapat memilih paket wisata yang ditawarkan. Biasanya, ada empat paket dengan rentang harga dan waktu tempuh yang beragam yakni short trip, medium trip, long trip, dan sunrise trip. Semakin jauh rute yang dipilih, semakin banyak tempat yang bisa dilihat.  Tur rute pendek dengan Jeep berisi maksimal 4 orang dewasa harganya Rp 350.000, sementara untuk medium Rp 450.000 dan untuk long Rp 600.000. 


            Petualangan dimulai saat pengemudi memacu Jeep hingga memasuki hutan kecil dengan jalanan berbatu. Di sepanjang jalan, Anda menyaksikan pemandangan beragam mulai dari perkampungan yang sudah rata dengan tanah, lautan dan gundukan pasir, sampai pemakaman massal korban Merapi. Selama mengikuti tur, Anda diajak singgah ke berbagai tempat yang memiliki kisah menarik. Lokasi pertama yang disinggahi adalah Mini Museum ‘’Sisa Hartaku’’  yang berada di daerah Petung, Kepuharjo, Cangkringan, Sleman. Untuk melihat-lihat isi museum, pengunjung tidak dipungut biaya. Namun, pengunjung yang datang bisa memberi uang seikhlasnya di kotak sumbangan untuk perawatan museum. Mini museum ini sebenarnya adalah bekas rumah Riyanto yang terbagi dalam beberapa ruangan, seperti ruang tamu, ruang tengah, dan dua buah kamar. Di salah satu ruangan, pengunjung dilarang untuk memotret isi dalam ruangan. Museum ini dibangun untuk mengenang peristiwa dahsyat yang sulit untuk dilupakan warga sekitar. Kini Riyanto tinggal di rumah relokasi di dusun Pagerjurang, Kepuharjo, Cangkringan, yang berjarak 4 kilometer dari museum ini.




            Masuk mendekat, rumah itu berlantaikan sisa debu vulkanik. Semua barang yang ada di meja dan lantai rumah itu terbungkus abu. Mesin penjahit, televisi tabung, monitor komputer, sendok piring, dokumen kertas, tas, baju, alat gamelan semua tak terpakai akibat muntahan debu panas vulkanik. Pada sebuah jam dinding, tercatat kisaran angka 12.04.42. Itulah saksi sejarah kapan bencana di rumah tersebut datang. Jam dinding tersebut ditemukan dalam posisi terbalik di bawah lapisan pasir merapi.



            Melempar pandangan ke dinding, coretan dengan menggunakan batu arang bertebaran. Tulisan di dinding bernada sama, soal bencana. Di antaranya, 'habis sudah semua', 'bencana bukan akhir segalanya', ‘’Merapi tak pernah ingkar janji’’,  sampai ungkapan populer dari pujangga Jawa, Ronggowarsito, 'sak bejo- bejane wong kang lali, isih bejo wong kang eling lan waspodho'.








Batu ‘Alien’

            Dari Mini Museum ‘’Sisa Hartaku’’ perjalanan berlanjut ke Batu Alien atau spot batu berwajah yang merupakan bongkahan batu besar yang terkena letusan Merapi. Batu besar itu terletak tak jauh dari bibir jurang Kali Gendol.  Batu Alien ini memiliki ‘’wajah’’ manusia. Pemandu wisata menyarankan batu ini harus difoto agar bisa melihat 'penampakan' wajah dengan jelas. Memang tampak sekilas batu itu tak ada yang unik. Hanya bongkahan batu besar di sebuah ketinggian. Namun, setelah menuruti saran pemandu tersebut, dan mengeceknya, memang batu itu, di sisi kanan, terlihat seakan memiliki mata, telinga dan mulut. 


            Keunikan batu itu tak sampai di situ saja. Selain berpenampakan wajah ‘alien’, batu itu juga berpenampakan kepala singa.  Sama seperti sebelumnya, sang pemandu menyarankan untuk melihat penampakan itu dengan cara memotretnya. Saat difoto, penampakan wajah singa terlihat dari arah belakang kepala ‘’alien’’. Pada ujung batu tampak ada hidung dan mulut singa dilengkapi dengan rambut sang raja hutan tersebut.


            Ihwal nama ‘’alien’’, menurut sang pemandu, sebenarnya hanya plesetan saja. Warga lokal awalnya menyebut itu adalah batu 'alihan' dalam bahasa Jawa. Jika diartikan pada bahasa Indonesia maksudnya adalah batu pindahan dari puncak Merapi yang telah terseret sejauh 7 kilometer hingga kampung Jambu. Kali Gendol yang ada di dekat batu ‘alien’ itu juga terdampak oleh erupsi. Kedalaman kali yang berisi pasir dan material alami itu awalnya mencapai 90-an meter. Namun, setelah erupsi, kedalaman sungai tinggal 20-50-an meter.
            Dari spot Batu Alien, petualangan dilanjutkan ke Bunker Kaliadem. Dari sini, pengunjung dapat melihat puncak gunung dari 2 kilometer jarak pandang. Sebelum Merapi meletus, Kaliadem adalah area camping ground dengan berbagai fasilitas seperti musala, area publik, warung permanen, menara pandang. Di area ini, terlihat Desa Kaliadem yang porakporanda karena bencana letusan Merapi dahsyat pada tahun 2010 silam.


            Selain sisa-sisa pasir dan permukaan tanah tandus, tampak juga sebuah bunker yang konon digunakan sebagai tempat perlindungan dari bahaya lahar panas. Ada tangga menurun ke arah pintu. Pengunjung boleh turun dan melihat isi bunker.  Setelah pintu besi bunker yang berat didorong, terlihat satu ruangan lapang seukuran ruang kelas di dalam bunker. Bentuk ruangannya berbentuk setengah lingkaran, dengan bekas lahar panas yang telah membatu di tengah bunker. Satu-satunya sumber penerangan hanyalah cahaya dari pintu masuk. Dulu sempat ada dua relawan yang tewas kena lahar panas di bunker ini. Menurut cerita masyarakat setempat, konon, pada sore hari sering terdengar suara menangis dari bunker itu. Percaya tidak percaya, suasana di dalam bunker Kaliadem memang begitu suram dan menyedihkan.



            Meski begitu, jika Anda berada di sekitar kawasan Bunker Kaliadem, pemandangan yang disajikan di kaki gunung Merapi ini begitu memukau. Pemandangan yang sangat indah terlihat bila cuaca cerah di perjalanan menuju Merapi. Puncak Merapi kelihatan gagah mengeluarkan asap yang tidak henti-hentinya.
            Dari Bunker Kaliadem, Anda akan diajak ke kampung Mbah Maridjan, juru kunci gunung Merapi yang meninggal karena terkena awan panas, di Dusun Kinahrejo Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman.  Kinahrejo merupakan dusun dengan kerusakan terparah karena lokasinya yang paling dekat dengan gunung Merapi. Kini dusun tersebut sudah tak ditinggali masyarakat, namun sering dikunjungi wisatawan. Selain melihat indahnya puncak Merapi, banyak hal yang bisa kita lihat di sini. Memasuki Dusun Kinahrejo, Anda bisa melihat foto-foto terjadinya erupsi 2010 silam. Sedikit jalan ke atas, Anda bisa melihat lokasi bekas rumah Mbah Maridjan. Tepat di depannya ada warung yang menjual suvenir serta makanan. Jika Anda beruntung bisa bertemu Ponirah (73), istri Mbah Maridjan.




            Lokasi bekas rumah Mbah Marijan diberi garis pembatas dari bambu dan papan kayu dengan tulisan 'Petilasan Rumah Mbah Maridjan', sehingga memudahkan wisatawan mengenali bekas tempat bangunan rumah juru kunci Gunung Merapi itu. Saat ini bekas atau petilasan bangunan rumah almarhum Mbah Maridjan dibangun kembali dengan bangunan pendapa terbuka dan diberi foto Mbah Maridjan yang diberi bingkai dengan posisi berdiri. Bangunan lain yang ada di dekatnya menyimpan puing-puing hasil sisa erupsi gunung Merapi seperti bangkai motor, bangkai mobil, meja kursi, dan sisa-sisa perabotan rumah. Fasilitas umum yang disediakan oleh museum ini adalah musala, kamar mandi umum, pendapa yang dapat digunakan untuk bersantai, dan gardu pandang untuk mengamati Gunung Merapi bila tidak tertutup kabut.





            Puas menyusuri kawasan Merapi kurang lebih 3 jam, sebelum kembali ke Kaliurang, perjalanan diakhiri dengan bermain air di Kali Kuning dengan Jeep. Wisata air dengan Jeep di Kali Kuning ini merupakan momen yang dinanti para wisatawan yang melakukan Lava Tour. Di area Kali Kuning, Anda diajak untuk menguji nyali dengan naik Jeep yang melaju di bebatuan sungai. Dan cipratan air dari Jeep yang melaju memberikan sensasi yang membuat wisatawan tak ingin permainan air ini cepat berakhir.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar