Sabtu, 27 Juni 2015

Teluk Hijau dan Pantai Sukamade Banyuwangi



Menikmati Pantai ''Pribadi'' Teluk Hijau
dan
Bertamu ke ‘’Rumah’’ Penyu di Sukamade


            Anda suka wisata petualangan? Cobalah mengunjungi Banyuwangi, kabupaten yang terletak di ujung paling timur pulau Jawa. Kabupaten berjuluk ‘’The Sunrise of Java’’ ini memiliki banyak objek wisata alam yang menantang. Selain Kawah Ijen yang bisa Anda capai dengan berjalan kaki kurang lebih 3 jam dari pos pendakian Paltuding, Banyuwangi juga terkenal dengan wisata pantainya yang indah. Pantai Plengkung atau G-Land misalnya. Pesisir yang bentuknya melengkung panjang ini merupakan salah satu tempat berselancar terbaik di dunia. Namun, jika Anda tak ingin ‘’menunggang’’ ombak, Anda bisa menikmati keindahan Teluk Hijau (Green Bay) dan mengamati penyu bertelur di pantai Sukamade. Keduanya berada di kawasan konservasi Taman Nasional Meru Betiri (TNMB).
            Pantai Sukamade sendiri berjarak sekitar 100 kilometer dari pusat kota Banyuwangi.  Anda membutuhkan waktu kurang lebih 5 jam untuk bisa sampai ke sana. Namun tenang, lamanya waktu perjalanan menuju Sukamade akan terbayarkan setelah melihat ‘’surga’’ tersembunyi dan kekayaan hayati di sana. Selain itu, Anda juga akan mendapatkan ‘’bonus’’ karena bisa melihat tempat indah lainnya. Karena sebelum tiba di Sukamade, Anda akan melewati dua pantai lain, yaitu Rajegwesi yang merupakan pantai sekaligus dermaga para nelayan serta Teluk Hijau.           
            Kebanyakan wisatawan mengunjungi Meru Betiri dan pantai Sukamade sebagai tujuan utama. Sebelum sampai di sana, wisatawan akan melewati Teluk Hijau. Namun, biasanya para wisatawan hanya melihat Teluk Hijau dari atas bukit saja. Padahal keindahan sebenarnya ada pada pantainya. Karena itulah, Anda wajib mengunjungi dari dekat pantai Teluk Hijau, bukan hanya melihatnya dari atas bukit saja.


            Ada dua cara untuk bisa mencapai Teluk Hijau dari Rajegwesi. Pertama dengan cara trekking atau jalan kaki sejauh dua kilometer yang bisa ditempuh dengan waktu satu jam perjalanan. Anda harus menyusuri tebing dan lembah. Perjalanan cukup menguras tenaga, karena jalanan berbatu, kadang menanjak dan kadang menurun. Terlebih pada saat musim hujan, jalanan cukup licin. Sebagai antisipasi untuk mengurangi risiko kecelakaan, pengelola Teluk Hijau memasang tali tambang untuk pegangan di sepanjang lintasan trekking.         
Cara kedua untuk mencapai Teluk Hijau adalah melalui laut dengan naik perahu jukung selama kurang lebih 15 menit. Anda bisa menyewa perahu ini dari pantai Rajegwesi dengan harga Rp 25 ribu/orang sekali jalan atau Rp 35 ribu untuk pulang pergi. Meski naik perahu dan tidak berjalan kaki, namun, nyali Anda tetap diuji. Dengan perahu ini, Anda harus menyusuri pantai Selatan yang terkenal dengan ombaknya yang cukup besar untuk mencapai Teluk Hijau. Perahu akan terayun-ayun, dan bisa dipastikan pakaian Anda akan basah terkena cipratan air laut yang disibak oleh perahu.


            


Meski ombak cukup besar, tak perlu khawatir, karena para nelayan yang membawa perahu jukung sudah tahu bagaimana cara menaklukkan ombak. Selain itu, perahu  jukung yang dilengkapi dengan sepasang cadik yang berfungsi sebagai pelampung ini merupakan perahu paling aman, lincah dan mudah dikendalikan.  Anda juga diwajibkan mengenakan jaket pelampung saat naik perahu.  Biasanya para wisatawan, saat pergi menuju Teluk Hijau akan melakukan trekking dan ketika pulang memilih naik perahu. Alasannya logis, tenaga sudah terkuras pada saat berangkat sehingga waktu pulang tak mau lagi berjalan kaki.


          

  Tiba di Teluk Hijau, Anda akan disuguhi keindahan panorama air laut berwarna hijau dengan hamparan pasir putih,  dan pemandangan asri karena Teluk Hijau dikepung bukit dengan pepohonan yang menghijau.  Di sini, Anda bisa bermain air, berenang atau bermain pasir. Suasana yang tenang dan tak terlalu ramai bahkan saat liburan sekalipun membuat Anda bisa menikmati keindahan Teluk Hijau sepuasnya. Di ujung barat dan timur terdapat batuan karang yang menambah keeksotisan tempat ini. Di sisi timur ada sebuah air terjun air tawar setinggi 8 meter dengan debit yang sedang dan biasa dipakai uuntuk membilas badan selepas berenang di pantai. Pantai ini memang masih sangat bersih. Demi menjaga keasriannya, pengelola tempat ini memasang papan peringatan agar wisatawan tak membuang sampah sembarangan serta mengotori tempat ini.








Mengintip Penyu Bertelur

            Puas menikmati keindahan Teluk  Hijau, baru kemudian Anda boleh meneruskan perjalanan  ke pantai  Sukamade di desa Sarongan kecamatan Pesanggaran. Karena medan yang menantang, perjalanan dari Banyuwangi menuju ke Sukamade, sebaiknya Anda naik naik mobil 4x4 alias double gardan atau kendaraan sejenis off road lainnya. Jalur yang berlumpur dan bebatuan akan membuat andrenalin terpacu. Jalanan berkelok serta menanjak bebukitan, batuan terjal dan tanah becek sengaja dibiarkan alami agar pengunjung merasakan sensasi petualangan. Perjalanan menantang ini harus Anda lewati hampir sepanjang 30 kilometer. Selain dari Banyuwangi, pantai Sukamade dapat dicapai dari Jember yang berjarak sekitar 127 km.
            Untuk bisa mencapai Sukamade, Anda juga harus menyeberang empat sungai besar dan tiga sungai kecil. Menurut penduduk, bila musim hujan tiba beberapa sungai tersebut meluap sehingga membuat kendaraan tidak bisa lewat. Satu satunya jalan adalah menyeberang memakai rakit.  Karena medan yang sulit inilah, membuat pantai ini tetap terjaga keasriannya karena jarang pengunjung yang datang ke Sukamade.  Pantai Sukamade paling diminati oleh wisatawan mancanegara, karena bisa mengamati penyu yang sedang bertelur.





            Pertama masuk pantai Sukamade, Anda akan disambut oleh kelompok macaca dan lutung yang sudah terbiasa dengan pengunjung. Anda bisa menikmati trekking melintasi hamparan hutan hujan tropis dataran rendah dengan akses jalan setapak. Sepanjang jalur Anda akan menjumpai kumpulan kelelawar besar, kijang, babi hutan, biawak dan berbagai jenis burung termasuk elang laut. 
            Setiba di Pondok Rafflesia, Pusat Konservasi Penyu Sukamade, Anda akan menemukan penangkaran penyu. Para wisatawan dapat menyaksikan proses penyu bertelur sampai penyu tersebut kembali ke laut hingga ikut melepaskan anakan penyu yang sudah menetas. Ada 4 jenis penyu yang dapat Anda jumpai dari 6 penyu yang berada di Indonesia di sini, yaitu Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Slengkrah (Lepidochelys olivaceae), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) dan Penyu Belimbing (Dermochelys coriaceae).
akan tetapi penyu yang sering mendarat di pantai sukamade ini adalah Penyu Hijau.
            Biasanya pengunjung tidak diperbolehkan menyalakan lampu dan berbuat gaduh selama berada di pantai menunggu kedatangan penyu. Pengamatan Penyu dilakukan sekitar pukul 20.00-24.00. Saat ada tanda munculnya penyu, Anda diberi kode lampu senter dari arah lokasi. Petugas memperingatkan agar tidak berdiri di depan lintasan jalan penyu, karena akan menyebabkan penyu ngambek. Anda diperbolehkan mengambil gambar tanpa lampu flash dan hanya boleh diambil dari samping dengan bantuan senter. Penyorotan dari depan wajah ibu penyu hanya akan membuatnya terganggu dan kehilangan orientasi dan akhirnya penyu menuju air laut kembali.


Wisatawan juga dapat turut aktif dalam usaha konservasi penyu dengan mengikuti kegiatan pelepasan tukik (anak penyu yang baru menetas) ke laut setetah ditetaskan pada penetasan semi alami. Biasanya, penyu bertelur pada bulan Mei, Juni dan Juli.  Namun, dari hasil pengamatan petugas Taman Nasional Meru Betiri, hampir tiap hari ada penyu yang mendarat di Pantai Sukamade, selama Januari-Desember.
            Fasilitas yang terdapat di sekitar pantai Sukamade antara lain pondok wisata, camping ground yang dilengkapi dengan pendapa untuk ruang pertemuan, shelter, jalan trail wisata, information centre, laboratorium dan pondok kerja.

          Berburu Dubang dan Rujak Soto

  Saat mengunjungi Banyuwangi, pastikan Anda mencicipi dubang (durian abang), yang daging buahnya berwarna merah. Rasanya lebih enak dari durian berdaging putih dan kuning. Harga durian merah ini cukup mahal, sekitar Rp 400 ribu perbuah. Hal ini bisa dimaklumi karena stok dubang cukup langka, hanya diperoleh dari sekitar 200 pohon yang tersebar di sejumlah kecamatan di Banyuwangi.
            Warna merah dari daging buah durian diduga disebabkan oleh perkawinan silang antar varietas dan termasuk faktor genetis. Dan,  konon rasa yang enak yang dimiliki dubang menurut pakar hortikultura, disebabkan karena letak geografis Banyuwangi. Karena pohon dubang tumbuh di tempat yang cukup mendapatkan garam dari laut yang dihembuskan angin, serta sulfur yang dibawa dari arah Gunung Ijen dan Gunung Raung. Garam dan sulfur  memiliki nutrisi yang bagus untuk durian. Dari 62 varian dubang, dikelompokkan menjadi tiga yaitu durian merah Bocking yang seluruh daging buah berwarna merah, durian merah Pelangi, yang dagingnya berwarna merah kuning, dan durian Grafika, yang dagingnya berwarna merah, kuning, putih,




            Di mana Anda bisa membeli dubang ini? Anda bisa mendatangi sejumlah gerai buah di Banyuwangi. 
            Selain buah dubang, ada satu makanan khas Banyuwangi yang wajib Anda cicipi, yaitu rujak soto. Orang Banyuwangi agaknya suka menggabungkan dua makanan sekaligus, seperti pecel rawon ataupun buntut rawon. Makanan rujak soto sendiri berupa pecel lontong yang  kemudian disiram kuah soto kuning lengkap dengan jeroan (usus, babat), juga kikil. Cara makannya ditambah kecap manis, emping, dan kerupuk udang.  Rasanya? Perpaduan antara bumbu kacang dan kuah soto menghasilkan sensasi rasa yang unik, gurih dan bertekstur. Semangkuk rujak soto ini bisa Anda beli seharga Rp 10.000!
            Tak sabar ingin mencicipi? Anda bisa mengunjungi Warung rujak soto Mak Usmiah yang terletak di Desa Banjarsari, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Cukup mudah untuk menemukan warung ini karena letaknya yang strategis, yaitu berada di lintasan menuju wisata Kawah Ijen. Satu lagi adalah Pondok Rujak Soto murah meriah yang terletak Jalan Basuki Rahmat Banyuwangi.  *****




1 komentar: