Senin, 20 Februari 2017

Mengeksplorasi Keindahan Jalur Sosebo

            Ingin melakukan wisata murah meriah? Anda bisa menelusuri jalur Solo-Selo-Borobudur atau disingkat SSB atau Sosebo.  Anda bisa menemukan banyak tempat wisata alam yang bisa diakses gratis tanpa karcis, atau jika harus membayar, Anda tak perlu merogoh kocek dalam-dalam. Jalur Sosebo sendiri bisa dicapai kurang lebih perjalanan 30 menit dari Boyolali kota. Sosebo menjadi jalur favorit dan pilihan bagi para pendaki yang hendak menaklukkan gunung Merapi maupun Merbabu karena medannya yang tidak berbahaya dan jaraknya yang lebih dekat dari jalur yang lain. Pemerintah setempat,  saat ini secara bertahap memperbaiki tempat tujuan wisata di jalur Sosebo. Di antaranya memperbaiki sejumlah bangunan yang rusak paska erupsi gunung Merapi,  seperti joglo 1 yang terdapat gedung Merapi Theater, New Selo di desa Lencoh, dan membangun jembatan gantung di lereng Merapi sebagai jalur evakuasi warga.
            Lokasi pertama yang bisa Anda kunjungi adalah tanjakan Irung Petruk. Saat melintas jalur Sosebo dari Boyolali kota, Anda bisa menghentikan mobil atau kendaraan di tanjakan yang berada di desa Genting, Kecamatan Cepogo, Boyolali. Lokasi ini menjadi tempat pemberhentian wisatawan untuk istirahat, menikmati keindahan pemandangan dan sunrise  serta spot bagus untuk berfoto. Tepat di tikungan jalan yang menanjak, Anda akan menjumpai patung Petruk  yang menjadi ikon tempat ini. Latar belakang pembangunan patung Petruk sendiri berasal dari masukan dan aspirasi warga  lereng Gunung Merapi-Merbabu yang sampai saat ini meyakini adanya legenda Mbah Petruk.  Di luar cerita legenda,  penamaan Irung Petruk sebenarnya merujuk pada bentuk tikungan yang jika dilihat dari atas, seperti hidung petruk yang lancip.


            




Setelah menikmati keindahan alam dari tanjakan Irung Petruk, Anda bisa melanjutkan perjalanan ke agrowisata Selo Pass di ketinggian sekitar 1.400 m dpl. Dahulu tempat ini hanya kebun sayuran dan buah, sama seperti lahan-lahan milik penduduk di sekitar Selo. Namun kemudian oleh pemiliknya disulap menjadi kawasan wisata alam pada tahun 2002. Jika Anda sekadar berkunjung untuk melihat-lihat kebun sayur di sini, tidak dipungut biaya. Biaya hanya dibebankan pada pengunjung yang menginap. Pengunjung yang hobi mendaki gunung juga dapat menyalurkan hobinya di sini. Karena Selo Pass juga terkenal sebagai titik awal pendakian dan trekking ke puncak gunung Merapi. Untuk pendakian dengan jasa pemandu dikenakan biaya bervariasi antara Rp200 ribu hingga Rp250 ribu per orang.


            Di Selo Pass, Anda bisa berkeliling kebun sayuran (kubis, wortel, seledri, daun bawang, brokoli, dan kol bunga). Di tempat ini Anda juga bisa mendapati pohon kesemek, stroberi yang ditanam dalam polibag dan tanaman alfalfa (Medicago sativa) yang berasal dari pegunungan Mediterania. Kini Selo Pass menjadi satu-satunya tempat penanaman Alfalfa dalam skala luas di Indonesia meski hanya 3.000  m2. Alfalfa sendiri bisa dimanfaatkan sebagai bahan ramuan herbal, sayuran, dan pakan ternak. Di Selo, tanaman ini diolah menjadi ramuan herbal berupa teh seduh dan ekstrak. Setelah berkeliling kebun sayur, Anda bisa mencicipi teh seduh alfalfa.
Di kawasan ini, Anda dapat menikmati pemandangan indah di area pendakian gunung, tersedia fasilitas outbound, seperti flying fox, team work, dan fun game, serta New Selo yang merupakan pos pengamatan gunung berapi. Sementara itu di desa-desa di lereng Merapi, Anda  juga bisa menyaksikan kesenian tradisional seperti Reog Ponorogo, Ketoprak, Topeng Ireng, Jatilan, Tari Kuda Lumping Turonggo Seto, Tari Prajuritan, serta tradisi kearifan lokal upacara sedekah gunung Merapi yang digelar satu tahun sekali. Wisatawan  juga bisa melihat film tentang gunung Merapi di Merapi Theater di Joglo 1 dengan membayar Rp2.500 per orang.

Gardu Pandang dan Jembatan Gantung

Tempat lain yang bisa Anda kunjungi saat melewati jalur Sosebo adalah gardu pandang Bukit Gancik yang saat ini menjadi lokasi favorit wisatawan. Dari foto-foto selfie yang diunggah ke media sosial, banyak yang penasaran dengan tempat ini. Gardu pandang Gancik  dibangun tepat menghadap gunung Merapi. Bangunannya terbuat dari kayu dan bambu setinggi 10 meter dan berada di ketinggian 2000 meter di atas permukaan laut (Mdpl). Pembangunan gardu pandang ini dilakukan secara swadaya warga setempat. Warga Selo merintis agar Bukit Gancik bisa menjadi destinasi pendukung agrowisata yang ada di kawasan tersebut. Ide ini bermula dari penetapan Desa Selo sebagai Desa Berdikari oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng. Warga khususnya kelompok sadar wisata (pokdarwis) kemudian menggali setiap potensi yang ada di desa salah satunya Bukit Gancik.


Pengunjung yang datang ke gardu pandang ini akan merasakan sensasi berada di atas awan, tanpa perlu mendaki puncak hgunung Merapi atau Merbabu. Anda apat mendirikan tenda, sekaligus menunggu datangnya sunrise maupun sunset. Untuk mencapai gardu itu, pengunjung bisa berjalan kaki sekitar 20 menit. Bisa juga menempuh perjalanan menggunakan sepeda motor melintasi jalur-jalur pertanian yang sebagian sudah dibeton.
Dari gardu pandang di Bukit Gancik, Anda bisa melihat pemandangan segitiga emas, Lawu-Merapi-Merbabu.  Pada malam hari, keindahan alam dari bukit itu tak kalah menarik. Seperti lintang terbalik dan kerlap kerlip lampu kota Solo yang terlihat dari sini. Nama Gancik diambil dari sejarah Kiai Syarif yang tinggal di Merbabu pada tahun sebelum kemerdekaan. Jalur di bukit itu konon sering menjadi jalur naik turunnya Kiai Syarif dari Merbabu ke Pasar Selo.Di sini dulu tempat gawe mancik [untuk pijakan] kiai. Gawe mancik saat kiai memandang alam sekitar dan gae becik. Warga akan menata bukit itu menjadi lebih eksotis. Perkebunan sayur yang mengelilingi bukit akan dikemas menjadi kawasan agrowisata.
Selain gardu pandang Bukit Gancik, tempat lain yang wajib Anda kunjungi adalah jembatan gantung Selo dengan pemandangan yang indah. Jembatan gantung ini sebenarnya dibangun untuk kepentingan evakuasi warga di lereng gunung Merapi khususnya warga Dukuh Salaran Jrakah, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali. Jembatan ini mulai dibangun pasca erupsi hebat di tahun 2010 dan diikuti banjir lahar dingin yang menghancurkan sejumlah jembatan penghubung desa dan bendungan. Posisi keberadaan jembatan gantung ini relatif aman dari terjangan banjir.



Berselang beberapa tahun jembatan gantung Selo menjelma bukan hanya sebagai jalur evakuasi namun juga menjadi tempat rekreasi. Hal ini didukung oleh konstruksi jembatan yang unik ditambah dengan pemandangan cantik dari dua gunung eksotis yakni Merapi dan Merbabu. Jika menoleh ke arah barat maka samar-samar akan terlihat gunung Sindoro dan Sumbing. Di sekitar jembatan ini terlihat pula hamparan kebun sayur milik warga yang  membuat segar mata. Di tempat wisata ini Anda bisa berfoto-foto di atas jembatan yang pembangunannya menghabiskan dana dua miliar ini.
Saat terbaik untuk menikmati  keindahan alam dari jembatan gantung ini adalah waktu pagi dan sore hari. Pada pagi hari udaranya masih sejuk dan Anda bisa menyaksikan kumpulan kabut membentuk awan di sekitar gunung Merapi.  Sementara pada sore hari, Anda bisa menikmati panorama will-o’-the-wisp atau dalam bahasa jawa disebut ‘candik ayu’ di cakrawala langit sebelah barat.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Dari Sambal Lethok Hingga Jadah Selo

Berkunjung ke Boyolali, tak lengkap rasanya jika tak merasakan kuliner khas daerah. Sebelum Anda mengeksplorasi jalur Sosebo, Anda wajib berwisata kuliner di kota Boyolali. Di kota ini, Anda bisa menikmati masakan sambal tumpang. Orang Boyolali menyebutnya sambal lethok, yaitu perpaduan nasi atau bubur dengan sayuran rebus yang diberi kuah sambal tumpang di atasnya. Dari situlah muncul sebutan sambel tumpang. Komposisi sambal berbahan dasar santan dan tempe busuk yang dibumbui bumbu cabai, kencur, serai, daun salam, daun jeruk, bawang merah, dan bawang putih. Kuah sambal inilah yang menjadikan rasa gurih dan pedas pada nasi atau bubur tumpang. Biasanya, di dalam kuah sambal tumpang juga ditambahi tahu sebagai lauknya.



Beberapa kedai sambel tumpang legendaris di Boyolali di antaranya warung sambel tumpang Mbah Merto yang sudah berada  pada pewaris generasi ketiga, Bu Parti. Warung yang sudah ada sejak 15 tahun lalu ini buka mulai pukul  03.30 hingga 09.00 WIB, di Jalan Pandanaran Boyolali yang letaknya seperlemparan batu dari perempatan terminal kota Boyolali. Untuk menikmati satu porsi nasi atau bubur tumpang, Anda cukup merogoh kocek Rp 3000.  Warung sambal tumpang  lainnya yang juga memiliki banyak pelangga, di antaranya warung nasi tumpang Mbok Nah yang buka sejak tahun 1960. Ada juga bubur dan pecel tumpang Mbok Sagi di jalan Pahlawan Boyolali. Sementara di warung nasi tumpang Pak Suprih, di perempatan lampu merah, Jalan Tentara Pelajar, Boyolali, sambal tumpang yang dijual sudah siap bungkus dan diletakkan dalam keranjang rotan. Pembeli yang ingin menikmati sambal tumpang, bebas mengambil bungkusan yang telah disediakan seharga Rp 2000 per bungkus. Selain itu, yang terkenal di warung ini adalah pendamping untuk menikmati sambal tumpang yaitu, susu sapi murni seharga Rp 2500 per gelas.
Sementara itu di kawasan Selo, Anda bisa mampir dan istirahat sejenak menikmati view Merapi sembari minum kopi dan makan jadah (uli) bakar di warung Mbah Karto.  Di warung yang kecil dan sederhana, Mbah Karto menyajikan jadah yang lembut dan lumer, yang bisa dinikmati dengan cara dibakar ataupun tidak, disertai srundeng manis ataupun tempe bacem. Bahkan karena rasa gurihnya yang pas, jadah ini bisa dinikmati begitu saja tanpa tambahan apapun. Dan yang patut dicatat, jadah Mbah Karto tidak cepat kering seperti kebanyakan jadah. Jadah Mbah Karto ini benar-benar lembut dan lumer, serta tahan lebih dari 1 hari. Tentunya hal ini tidak terlepas dari bahan yang digunakan. Beras ketan yang berkualitas Mbah Karto memang pelopor produksi jadah di Selo sejak zaman dulu. Namun jadah Selo baru booming setelah pencanangan jalur wisata Solo-Selo-Borobodur (Sosebo). Seringkali orang sengaja datang ke Selo hanya untuk menikmati jadah bakar dan segelas teh hangat. Selain jadah, Mbah Karto juga menjual wajik. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar